dream of krowe

4 Mei 2011

Taman Prasasti

Filed under: Museum — Lehy @ 12:38 pm

Perjalanan kali ini menuju Museum Prasasti yang terletak di daerah Tanah Abang bersama dengan tiga orang teman mengendarai sepeda motor. Dalam perjalanan sempat diguyur hujan deras sehingga harus berteduh di bawah stasiun kereta Juanda. Syukurlah akhirnya hujan reda, tapi belum lama kami berjalan hujan kembali mengguyur sehingga kami kembali berteduh di parkiran sebuah gedung.
Jalan menuju Museum Prasasti tidaklah terlalu sulit, memasuki Jalan Abdul Muis pada lampu merah pertama yang dijumpai tinggal belok ke arah kanan. Lokasi museum persis di samping Kantor Walikota Jakarta Pusat.
Di pintu masuk ada sebuah loket untuk melayani penjualan tiket masuk. Harga tiket Rp 2.000 untuk dewasa, sementara untuk pelajar/mahasiswa harga lebih murah namun saya lupa berapa nominalnya.
Begitu memasuki pintu, dapat dijumpai sebuah patung besar wanita yang sedang bersedih. Tak tahu harus memulai dari sebelah mana untuk menjelajahi Museum (areal makam) maka kami bergerak ke sebelah kanan terlebih dahulu. Di tempat ini ada beberapa makam yang di atasnya terdapat patung yang terbuat dari batu marmer. Nuansa makam seperti di Eropa sangat kental terasa.
Kebiasaan saya sebelum mengunjungi suatu tempat adalah browsing informasi mengenai tempat tersebut. Sempat saya baca mengenai biaya yang tidak masuk akal bila kita membidik gambar meskipun dengan menggunakan kamera saku bukan kamera SLR dan hanya boleh mengambil gambar dengan kamera HP saja. Namun ketika saya dan teman-teman berada di sana, kami tidak dikenai biaya apapun untuk kedua kamera saku yang kami bawa. Walaupun pada awalnya agak ragu mengeluarkan kamera, takut tiba-tiba ditodong oleh oknum seperti yang saya baca di blog tetangga.
Potensi untuk dijadikan destinasi wisata sejarah cukup besar, terbukti dari terlihatnya beberapa wisatawan asing yang berkunjung, tapi sangat disayangkan agak kurang terawat. Walaupun begitu, kondisi makam masih lebih baik dibandingkan dengan peninggalan makam masa penjajahan di tempat lain yang pernah saya datangi sebelumnya. Semoga saja dimasa datang akan ada perhatian khusus bagi tempat wisata sejarah, seperti tulisan-tulisan yang menggambarkan sejarah keberadaan Kerkoov land ini.

2 Mei 2011

Negara tetangga, Singapura

Filed under: Luar Negeri — Lehy @ 4:09 pm

APRIL 2010

Sudah sejak lama ingin merasakan bagaimana rasanya di luar negeri. Eittssss… tunggu dulu, jangan cap saya saya tidak cinta dengan Indonesia. Saya sangat cinta dengan negeri ini, tapi bolehlah sekali kali saya lakukan uji banding ke luar negeri. Bolehkan… toh saya pakai uang pribadi dengan mengurangi beberapa hal selama setahun dan sama sekali tidak menggunakan dana anggaran dari sana-sini he..he..

Akhirnya keinginan itu tercapai juga. Singapura… Negara tetangga yang luasnya hampir sama dengan Jakarta. Perencanaan ke sana sudah saya buat sejak setahun sebelum keberangkatan, dikarenakan tiket yang saya beli untuk keberangkatan ditahun berikutnya (korban promo tiket murah). Saya membeli 2 tiket (untuk saya dan seorang teman) dengan harga Rp 750.000 untuk 2 tiket PP (Jakarta-Singapura-Jakarta).

Tiket sudah ditangan, tinggal persiapan-persiapan lain seperti paspor, menyisihkan tabungan dalam bentuk dollar Singapura selama setahun dan browsing berbagai tempat-tempat yang mesti dikunjungi selama di sana.

Karena menurut informasi yang saya dengar, bahwa pembuatan paspor hanya memakan waktu sepuluh hari maka saya baru mengurus tepat 14 hari (2 minggu) sebelum keberangkatan. Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, pembuatan paspor cukup menyita waktu.

Pertama kali datang saat saya menyerahkan formulir berikut dokumen-dokumen yang menjadi syarat pengajuan dengan nomor antrian yang cukup panjang. Kemudian tiga hari kemudian harus kembali lagi untuk diwawancara, yang diawali dengan antri pembayaran, antri pengambilan foto dan sidik jari dan pastinya juga antri wawancara. Setelah proses itu berakhir, saya diberi tanggal pengambilan paspor. Saat saya lihat tanggal yang tertera, saya kaget karena itu adalah tanggal keberangkatan saya. Sempat saya bertanya kepada petugas, apakah bisa diambil sehari sebelumnya. Tapi petugas hanya berkata “Tergantung pusat, kalau sudah jadi ya bisa langsung diambil.”.

Dalam masa penantian itu, saya merasa agak tegang. Sehari sebelum jadwal pengambilan, seorang teman menawarkan diri untuk mengambil karena dia memang ada kepentingan di daerah itu juga. Saya buat surat kuasa bermaterai berikut foto copy KTP. Tak berapa lama dia menelepon dan memberi kabar ternyata paspor saya sudah siap tapi dia tidak boleh mengambil karena yang diijinkan mengambil hanya yang bersangkutan ataupun keluarga yang berada dalam satu KK (Kartu Keluarga). Dengan terburu-buru dia menjemput saya di kantor dan mengantarkan mengambil paspor. Pelajaran berharga tentunya buat saya supaya lain kali tidak menunda-nunda waktu untuk mengurus hal-hal yang seperti ini.

*****

Jadwal penerbangan pukul 11.00 WIB, tapi untuk berjaga-jaga saya berangkat dari rumah menuju bandara pukul 08.00 WIB dengan menggunakan Bus DAMRI. Untuk menghemat waktu dari rumah masing-masing kami langsung menuju terminal Bus DAMRI. Ternyata teman saya sudah tiba terlebih dahulu di terminal dan berada di dalam bus yang sama dengan saya. Perjalanan menuju Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta cukup lancar. Setelah check in kami mencari tempat pelayanan bebas fiskal yang diperuntukan bagi pemilik NPWP. Pelayanan di tempat ini cukup memuaskan karena cepat dan yang terpenting keramahan petugasnya. Setelah mendapat tanda bebas fiskal pada tiket, kami meluncur ke bagian imigrasi.

Setelah lebih dari satu jam menunggu di bandara (akibat datang kepagian ;p) akhirnya pesawat lepas landas. Setibanya di Changi Airport kami langsung menuju pengambilan bagasi, kemudian melewati bagian imigrasi dengan sangat lancar. Berdasarkan informasi dari beberapa teman yang sudah pernah ke Singapura, ketika di pesawat akan diberikan lembar kertas untuk bagian keimigrasian dan harus diisi dengan lengkap terutama alamat yang akan dituju. Karena menurut beberapa teman yang tidak mengisi lengkap, mereka akan disuruh mengisi secara lengkap terlebih dahulu dan mengantri kembali.

Di luar bandara kami menunggu seorang teman lagi yang berangkat dari Batam. Tapi karena ada sedikit masalah dia agak terlambat tiba. Untuk mengisi waktu kami berputar-putar di bandara, sedikit berfoto-foto dan karena lapar mata kami mencari-cari tulisan foodcourt tapi tidak kelihatan. Akhirnya kami bertanya ke petugas informasi. Dia menunjukkan tempat makan khusus pekerja bandara. Setelah menanyakan dari mana kami berasal, dia langsung menyebutkan menu makanan yang tersedia di sana seperti ayam penyet, sayur asam, tempe, rendang dan lain-lain. Ternyata yang disampaikan petugas benar, di tempat makan terdapat makanan yang disebutkan petugas juga beberapa makanan khas Indonesia lainnya.

Tapi karena ingin mencoba menu lain, kami memesan kwetiauw ala Singapura dengan taburan teri di atasnya. Harga makanan di sana agak mahal sekitar 3-5$ (Kurs saat itu 1$ Singapura = Rp 6.700). Ya… lumayan mahal buat kami yang terbiasa keluar-masuk warteg. Dan seperti yang sudah diketahui, harga air mineral di Singapura cukup mahal berkisar 0,8-1,6$ (botol ukuran 600 ml) bahkan air mineral produksi Indonesia di sana harganya mencapai 1,6$ (Rp 10.720) padahal di Indonesia hanya Rp 1.500 (kalau beli di mini market, kalau di lampu merah atau di kaki lima atau asongan Rp 3.000).

Setelah menunggu agak lama, akhirnya teman kami tiba. Langsung kami naik kereta yang menghubungkan bandara dengan stasiun MRT. Dengan bekal fevo card yang saya pinjam dari teman yang pernah ke sana, saya tidak perlu repot-repot membeli tiket untuk naik MRT. Di Singapura tidak perlu khawatir akan tersesat karena peta, brosur dan informasi tentang Singapura serta tempat wisata sangat mudah didapatkan dan semuanya gratis. Dengan mudah dapat kita temukan di bandara, tempat wisata, Singapore Visitors Center dan tempat-tempat lainnya.

Tiba di stasiun Orchard kami turun dan berkeliling sebentar di sekitar Orchard Street. Karena sudah mulai lelah kami putuskan untuk mencari penginapan di Lucky Plaza. Tapi entah kenapa semua penginapan di sana penuh. Kami mengetuk pintu di setiap lantai tapi tidak ada hasil. Akhirnya kami meminta saran dari seorang teman, dia memberi alamat sebuah hotel di Geylang Street (agak kaget juga) tapi dia bilang alamat tersebut berada di wilayah yang agak jauh dengan lokasi “dolly” itu.

Kami putuskan naik taksi ke wilayah tersebut. Di dalam taksi kami berbincang dengan supir dan dia memberi saran untuk mencari penginapan disekitar Balistier Street saja karena reputasinya lebih baik. Tiba di Balistier kami melihat ada hotel di seberang jalan, kami putuskan menuju hotel tersebut tapi ternyata penuh. Bersama kami ada 2 orang pria berkulit hitam yang juga berburu hotel. Langsung kami menuju hotel berikutnya sambil berlari mendahului mereka. Tapi tetap saja mereka lebih cepat. Ternyata… hotel ke-2 juga penuh. Kami dan 2 pria tadi keluar sambil mata kami mencari hotel lain. Tiba-tiba 2 pria itu berlari menuju hotel yang berada tidak jauh dari situ. Tapi kami tidak berusaha mendahului mereka lagi karena kami melihat hotel lain di seberang.

Akhirnya perjuangan mencari penginapan dari sore hingga malam berakhir sudah. Kami mendapat kamar di lantai 4, New Orchid Hotel. Waktu menunjukkan pukul 21.00 waktu Singapura. Setelah mandi dan mengistirahatkan kaki  hingga pukul 23.00, kami menelusuri jalan Balistier untuk mencari makan. Kami masuk ke rumah makan kecil dan memesan nasi goreng ayam (makanan paling enak selama di Singapura menurut saya). Selesai makan kami kembali ke hotel, kemudian tidur dan mengumpulkan tenaga kembali untuk perjalanan esok.

***

Hari ke-2 dimulai dengan mengunjungi Bugis Street yang terkenal sebagai tempat belanja murah. Tapi karena tidak ada niat untuk berbelanja, kami hanya melihat-lihat saja kemudian makan siang. Dari sini kami naik becak menuju ikon kota Singapura, Merlion. Cukup banyak wisatawan yang berkunjung saati itu. Bahkan sebagian besar berasal dari Indonesia. Dari ikon negara ini, perjalanan kami lanjutkan menuju monumen yang bertuliskan OUR GLORIOUS DEAD. Berjalan kaki di sana sangat nyaman, meskipun tiap jalan satu dengan yang lain berjauhan. Tidak terasa kami melalui hotel Raflles, melihat bangunannya seperti peninggalan masa penjajahan. Karena lelah seharian berputar-putar, kami putuskan untuk kembali ke penginapan dengan MRT.

Setelah beristirahat beberapa saat di penginapan dan kaki kami sudah bisa diajak kompromi, perjalanan malam hari kami lanjutkan dengan menyusuri Orchard Street melewati Istana Park, Plaza Singapura dan berakhir hingga Statsiun Dhoby Ghaut kemudian naik MRT menuju Novena disambung taksi untuk kembali ke penginapan di Balistier Street. Hari ini berakhir dengan ritual penempelan koyo yang super besar-besar di sekujur tubuh dari pinggang, paha hingga betis. Memang melelahkan tapi menyenangkan dan kami menikmatinya.

***

Hari ke-3

Tujuan kami adalah ke Sentosa Island. Karena usul teman yang sudah pernah ke tempat ini sebelumnya, kami membeli tiket menuju Sentosa berikut karcis untuk menonton Song of The Sea. Pagi-pagi kami sudah bangun menuju Vivo City untuk membeli tiket. Tiket masuk sentosa sebesar $3 sementara untuk Song of The Sea $10. Karena pertunjukan baru nanti malam, kami putuskan untuk ke Lucky Plaza untuk membeli oleh-oleh. Setelah selesai membeli sedikit oleh-oleh berupa coklat berbentuk Merlion, dan beberapa benda berciri khas Singapura kami putuskan kembali ke penginapan untuk menghemat energi untuk perjalanan di sore hari karena kaki kami sudah merasa tidak sanggup bila harus dipaksa berjalan.

Pukul 14.00 setelah mengistirahatkan badan, kami mulai bergerak untuk berkeliling lagi. Tujuannya adalah Sentosa Island. Sampai di Vivo City, kami habiskan waktu berkeliling melihat-lihat produk ternama di toko-toko. Dibandingkan di Mal Jakarta ada beberapa produk dengan kualitas dan model yang sejenis dijual dengan harga lebih murah. Bahkan bisa lebih murah hingga 30%. Tapi jangan tanya apa yang kami beli, karena tidak ada satu pun he..he…he…

Setelah puas berkeliling, kami langsung menuju Sentosa Station untuk naik transportasi menuju Sentosa Island. Baru berkeliling sebentar di sekitar pantai, hujan turun dengan deras. Akhirnya kami habiskan waktu dengan berteduh di depan Starbuck Coffee, menunggu pertunjukan Song of The Sea dimulai.

Karena hujan masih terus turun, akhirnya kami membeli jas hujan untuk digunakan saat menonton pertunjukkan. Pertunjukkan cukup menarik, permainan lampu dan laser yang digunakan sangat memukau. Walaupun tidak terlalu mengerti alur ceritanya karena suara hujan, penonton, para pemain dan ombak saling beradu.

Selesai pertunjukkan kami langsung kembali ke penginapan. Pukul 23.00 kami tiba, langsung mem-packing barang-barang untuk perjalanan pulang esok hari.

***

Hari ke-4

Malas sekali rasanya beranjak dari tempat tidur, padahal sudah pukul 09.00, tapi harus bangun karena kami tidak mau tertinggal pesawat. Selesai mandi dan sedikit membenahi barang-barang bawaan, kami bergegas menuju Novena dengan naik bus. Dari Novena kami lanjutkan menuju Bandara Changi dengan MRT. Tiba di bandara agak sedikit kebingungan mencari tempat check in, tapi petugas yang ramah membuat kami terbantu. Setelah check ini, kami langsung menuju ruang tunggu melalui pemeriksaan barang dan imigrasi yang cukup ketat. Dalam perjalanan menuju ruang tunggu kami sempat mencoba fasilitas internet gratis di bandara.

Perjalanan cukup lancar karena tidak ada kendala apapun dan pesawat mendarat tepat waktu. Namun sedikit kecewa ketika tiba di Bandara Soekarno Hatta karena menunggu bagasi agak lama. Padahal saya sudah perhitungkan, masih bisa mengikuti satu mata kuliah lagi, setelah melewatkan mata kuliah yang sebelumnya. Ya meskipun terlambat tiba di kampus, tapi saya bersyukur karena bisa tiba di Jakarta dengan selamat.

Tema: Silver is the New Black. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.