Hari yang cerah untuk memulai perjalanan singkat menjelajahi tempat-tempat yang unik. Sudah lama tinggal di Jakarta tapi belum pernah ke Museum Nasional. Bukan Monas (monument Nasional) loh… Museum nasional letaknya berdekatan dengan Monas dan mungkin lebih dikenal dengan nama Museum Gajah (mungkin karena ada patung gajah di depan museum jadi disebut demikian).
Kendaraan yang saya pakai kali ini adalah bus umum (angkutan massal yang murah meriah). Bus yang saya tumpangi melewati Pasar Baru kemudian berbelok melewati Gedung Kesenian Jakarta dan berbelok lagi melewati Kantor Pos pusat dekat lapangan Banteng. Ketika bus berbelok lagi saya melihat bangunan Gereja Katedral yang sangat unik dari segi arsitekturnya, akhirnya saya putuskan untuk turun dari bus dan menikmati keunikan bangunannya. Saya pun memasuki halaman Gereja yang dipadati oleh mobil, karena siang itu ada pasangan yang akan menerima pemberkatan pernikahan di sana. Dengan segera saya ambil kamera saku dari tas saya dan dengan segera melancarkan gaya sok fotografer. 
Tak berapa lama saya teringat seorang teman yang rumahnya berada disekitar wilayah Katedral. Segera saya mengontaknya, dan dia bersedia menemani saya siang itu. Sambil duduk di dekat pos satpam, saya menunggunya. Tak berapa lama dia muncul dengan membonceng motor. Setelah sedikit berbicara mengenai tujuan saya selanjutnya akhirnya kami putuskan untuk berjalan kaki saja menuju Museum Nasional. Olahraga yang lumayan juga pikir saya.
Akhirnya kami berjalan menyusuri Jalan Veteran. Banyak bajaj, taksi ataupun ojek yang menawari kami, tapi demi kesehatan kami menolaknya he..he… (kesehata kantong) Menyusuri Jalan Veteran akhirnya kami berbelok di lampu merah sebelum perempatan Harmoni. Setibanya di pertigaan Jalan Merdeka (Istana Negara) kami agak ragu untuk berbelok ke kanan karena takut tidak ditegur oleh penjaga istana J. Akhirnya kami langsung menyeberang melintasi tepi trotoar Monas.
Setibanya di seberang Museum Nasional kami langsung membeli tiket masuk yang per orangnya dikenai Rp 5.000,- (tarif dewasa). Sebelum masuk ke dalam, wajib menitipkan tas pada loker yang sudah disediakan. Kami diberi nomer loker 33 oleh petugas museum yang ramah.
Kami langsung menuju sebuah ruangan di dalam museum yang di sebelah kanan dindingnya terdapat gambar wajah-wajah masyarakat dari Papua dan sebelah kirinya terdapat miniatur wilayah Indonesia. Suasana museum ini berbeda dengan museum lain yang sebelumnya saya kunjungi. Di tempat ini udaranya cukup terasa sejuk karena terdapat alat-alat pendingin.
Ketika kami memasuki lebih ke dalam lagi, kami banyak menjumpai turis-turis asing di dalam. Sebenarnya sebagai anak negeri ini saya agak kecewa dengan kenyataan ini. Sementara orang asing ingin mengetahui budaya Indonesia, justru banyak dari kita malah tidak peduli atau tidak mau tahu dengan tempat-tempat seperti ini.
Terdapat berbagai benda khas daerah seperti senjata, patung, kerajinan tangan dan alat-alat musik yang disuguhkan di museum ini. Semua benda yang ada dilengkapi dengan catatan singkat namun jelas dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sehingga tidak usah bingung bila ingin tahu benda apa yang terdapat di sini.
Di bagian belakang terdapat sebuah kano khas Papua yang memiliki panjang sekitar lima meter. Tiba-tiba jadi membayangkan andai saja suatu saat saya berkunjung ke bagian paling timur Indonesia, maka saya pasti akan mencoba menaikinya. Impian menuju ke sana selalu ada karena saya ingin sekali melihat keindahan kepulauan Raja Ampat yang terkenal itu.
Ada sebuah pintu yang terbuka dan berada di samping bangunan. Kami memasuki ruangan dibalik pintu itu yang di dalamnya terdapat berbagai keramik-keramik baik yang masih utuh maupun pecahan-pecahannya. Ada yang berasal dari masa pemerintahan Majapahit juga yang berasal dari negara lain seperti China, Vietnam, Thailand, Jepang, Timur Tengah/Arab dan Eropa.
Kami melewati pintu lain menuju bangunan museum yang pertama kami masuki melewati tempat terbuka yang terdapat patung-patung batu di sisinya dan patung seekor lembu di bagian tengah. 
Melewati bangunan itu kami menuju bangunan berikutnya yang terdiri dari beberapa lantai namun nantinya kami hanya menjelajahi hingga lantai ke-4.
Di lantai pertama terdapat gambar manusia purba, tengkorak manusia purba, kubur prasejarah Gilimanuk dan gambaran manusia pra sejarah. Di lantai ke-2 terdapat benda-benda yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat di jaman dulu seperti; kincir angin dari kayu, peralatan berburu, sepeda, miniatur perahu pinisi, dan lain-lain. Di lantai ke-3 terdapat hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat seperti; rumah-rumah adat dan juga beberapa batu prasasti (tugu, ciareuteun dll). Di lantai ke-4 terdapat emas dan perhiasan yang berasal dari berbagai daerah. Namun di tempat ini terdapat tanda larangan menggunakan kamera, dan karena patuh pada aturan maka saya tidak menggunakan kamera di sini.
Selesai memutari lantai 4, kami langsung turun ke lantai 1 dan keluar dari ruangan. Sebenarnya ada sebuah ruangan lagi di sebelah namun karena ada urusan lain yang mesti kami kerjakan sehingga kami menunda memasuki ruangan itu. Ya… tertunda karena kami yakin suatu saat kami akan kembali menjelajahi seluruh isi museum ini.
Keluar dari bangunan museum, kami berpapasan dengan rombongan wisatawan yang berasal dari wilayah Asia Timur. Mereka sepertinya tertarik dengan budaya bangsa ini, tapi mengapa kita yang memiliki budaya justru kadang acuh dengan warisan yang besar ini? Kenapa kita tidak mau masuk secara rombongan ke museum? Kalaupun ada itu hanyalah anak-anak sekolah yang mengadakan study tour.
Tidak ada yang mesti disalahkan, saya hanya berharap untuk masa yang akan datang semoga museum-museum di negeri ini akan makin banyak dikunjungi wisatawan. Bukan hanya wisatawan asing tapi juga wisatawan domestik.






