Hari ke-2 di Jogja.
Tepat pukul 05.00 WIB setelah mengepak barang-barang ke dalam ransel dan mengembalikan kunci kamar ke penjaga penginapan, kami siap menuju jemputan di pinggir Jalan Kemetiran. Langit masih gelap, apalagi semalam hujan turun dengan deras. Tidak terlalu lama menunggu, jemputan pun tiba.
Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, kami meluncur menuju candi Borobudur demi mengejar sunrise dari balik candi. Tidak sampai 45 menit, kami sudah sampai tujuan. Tapi karena terlalu pagi, loket belum dibuka. Kami menunggu di depan loket. Diantara pengunjung yang datang pagi itu, lebih didominasi oleh turis asing.
Tepat pukul 06.00 WIB loket dibuka. Setelah membeli tiket, tanpa berputar-putar candi kami langsung menuju puncak, stupa utama candi. Lalu dengan sedikit narsis mencari posisi yang kami anggap bagus, kemudian jepretttt… . Kami turun satu tingkat di bawahnya, lalu berkeling hingga tangga awal mengelilingi candi. Begitu seterusnya sampai bagian terbawah candi.
Udara pagi di candi sungguh sangat menyejukkan. Memang lebih baik berkeliling candi pada saat seperti ini, karena bila matahari sudah sedikit meninggi maka akan terasa panas. Tiap tingkatan yang tedapat di candi ini menggambarkan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan. Ada yang melambangkan dunia, alam, alam atas (belum mencapai nirwana) dan nirwana. Candi yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini memang sungguh luar biasa. Namun yang membuat saya agak heran, mengapa candi sebesar ini ditemukan dalam kondisi terkubur? Apakah karena faktor alam seperti meletusnya gunung di sekitar candi? Atau ada hal lain?
Sebenarnya masih ingin berlama-lama di Borobudur, tapi kami harus mengejar waktu menuju Dieng. Pukul 09.30 kami keluar dari komplek candi dan menuju mobil. Kami mengajak guide kami untuk ikut makan di warung makan yang ada di sekitar candi. Soto babat jadi pilihan sarapan eh… makan siang, mengingat sudah lewat dari jam sarapan.
*****
Go to Dieng…..
Saat di Jakarta, sebelum memutuskan akan pergi ke daerah ini.. Kami sedikit berdebat, karena meributkan masalah lokasi Dieng. Saya berpendapat bagaimana mungkin dari jogja ke Dieng ditempuh hanya dalam beberapa jam karena tempat itu terlalu jauh dari jogja, ternyata… saya salah. Karena selama ini saya pikir Dieng berada di daerah sekitar Bromo. Ini karena saya sering membaca iklan paket wisata TOUR BROMO – DIENG – JOGJA atau TOUR WISATA PRAMBANAN, BOROBUDUR, DIENG, BROMO.
Jalan yang dilalui lumayan lancar dan mulus. Bahkan sempat beberapa saat kami tertidur hingga memasuki wilayah Wonosobo. Tak berapa lama mobil memasuki jalan yang di sisinya terdapat perkebunan kol dan kentang. Wow… jadi ingin memanen saja, apalagi kol-kol di sana sangat besar-besar.
Mobil berhenti di Gardu Pandang, begitu membuka pintu lumayan terkejut juga. Ternyata udara di luar sangat dingin. Kami menuju sebuah bangunan kecil bertingkat, yang sepertinya memang sengaja dibuat untuk para pengunjung menikmati pemandangan indah dataran tinggi Dieng.
Angin kencang plus rintik-rintik hujan membuat udara makin dingin saja. Tapi yang mengherankan ada seorang bule yang tadi juga ada di Candi Borobudur berada di sana hanya dengan menggunakan singlet saja. Kok tidak kedinginan?
Perjalanan kembali dilanjutkan ke kawasan Candi Arjuna. Di kawasan candi ini ternyata terdapat beberapa candi lain seperti Candi Srikandi, Candi Sembadra dan ada beberapa bangunan candi lagi, tapi saya lupa namanya.
Hujan gerimis menemani kami saat memasuki kawasan candi tapi tidak mengurungkan niat kami untuk melihat salah satu peninggalan bersejarah ini.
Makin lama hujan yang turun semakin deras sehingga kami bergegas berlari menuju tempat parkir. Dengan naik mobil kami menuju sebuah bangunan museum, karena hujan kami berteduh di seberang bangunan. Di sisi yang lain terdapat sebuah bangunan candi. Kalau tidak salah Candi Gatot Kaca, karena hujan kami tidak mendekat ke candi sehingga tidak tahu bagaimana bentuk candi dari dekat.
Kami memesan bakso yang berada di tempat kami berteduh untuk menghangatkan badan dari udara dingin. Begitu bakso berada di meja, langsung kami lahap tapi kuah bakso tidak terlalu panas. Saya tanyakan hal itu ke penjual bakso, apakah kuah yang digunakan memang hanya hangat seperti ini. Si penjual sambil tersenyum menunjukan panci berisi air yang meletup-letup kepada kami dan menjelaskan karena begitu dinginnya udara di tempat itu sehingga membuat air panas menjadi cepat dingin.
Memang udara sangat dingin dan menurut perkiraan saya saat itu suhu di bawah 5’C. Tapi menurut penjual bakso, udara saat itu belum seberapa karena pada bulan tertentu bisa mencapai di bawah 0’C. Di sudut tempat berteduh saya melihat si bule yang diceritakan di atas. Dengan kaos singlet basah kuyup dia berteduh dari hujan yang makin deras. Tidak kedinginankah dia?
Segera setelah hujan sedikit reda, kami lanjutkan perjalanan menuju kawah Sikidang. Sepanjang perjalanan menuju kawah, bau khas belerang mulai tercium. Kawasan kawah Sikidang cukup luas dan di tempat ini merupakan hamparan luas tanah yang diujungnya terdapat sebuah kawah.
Terdapat banyak letupan kecil air panas di hamparan tanah tersebut. Kadang saya kaget ketika tiba-tiba ada percikan air panas mengenai kaki saya yang hanya menggunakan sandal jepit. 
Sambil berjalan menuju kawah Sikidang, kami mencari beberapa batu yang unik untuk kenangan-kenangan. Ketika mencari batu, saya sering menemukan uang koin dengan pecahan Rp 100 atau Rp 200 di sana. Saya bertanya kepada guide kami, tapi sepertinya dia enggan menjelaskan. Saat berjalan menuju kawah, kami berpapasan dengan bule tadi tapi sepertinya dia habis dari sana. Lewat mana si bule tadi, kok bisa dia duluan yang sampai di kawah? Padahal tadi waktu kami menuju ke kawah, si bule masih berteduh.
Letupan dan suara yang berasal dari kawah membuat saya terpukau. Kawah berisi lumpur yang meletup-letup mengingatkan saya pada pembuatan jenang. Tapi kalau jenangnya sebanyak ini, seberapa besar api yang digunakan untuk memasaknya. Mengingat hal itu saya jadi ngeri bila tiba-tiba kawah ini meletus dan menyemburkan “jenang” nya. 
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, kami sempat bermain dengan lumpur yang berada di sekitar letupan-letupan kecil. Karena menurut tulisan yang kami baca lumpur yang mengandung belerang dapat mengobati penyakit kulit maka muncul ide gila untuk melumuri kaki dan tangan dengan lumpur-lumpur itu.
Karena makin banyak orang yang datang, kami segera membersihkan dengan air mengalir dari sela-sela lubang. Tapi sela-sela kuku kami tidak bisa dibersihkan dari lumpur, hasilnya kuku kami serba hitam dan bau lumpur tidak bisa hilang. Jangan ditiru ya….!!!
Di dekat tempat parkir terdapat tempat seperti pasar kecil. Di sana ada yang menjual kentang, cabai dan bebrbagai hasil kebun lainnya. Juga penjual oleh dan kami membeli 2 ikat bunga edelweiss untuk kenang-kenangan.
*****
Tujuan selanjutnya adalah Telaga Warna. Letaknya tidak terlalu jauh dari kawah. Di pintu gerbang kami disambut penjaga loket dengan cukup ramah. Penjaga loket bertanya pada guide kami, mengenai status kami yaitu turis asing atau lokal (untuk diketahui, setiap tiket di kawasan Dieng dibedakan harganya berdasarkan turis asing atau lokal).
Saya segera menyahut, tentu saja kami lokal. Dan saya bertanya kepada penjaga loket mengenai pertanyaannya itu. Tidak terlihatkah wajah Indonesia kami? Dia segera melirik ke arah teman saya, karena dia mengira teman saya berasal dari Singapura atau Malaysia. Saya dan teman saya tertawa terbahak. Dia langsung menyeletuk: “Pak, saya chasingnya saja yang seperti ini kalau balik ke seberang, orang seperti saya diusir”. Untuk diketahui teman saya adalah seorang Tionghoa. 
Telaga Warna saat itu berwarna hijau agak kebiru-biruan atau biru agak kehijau-hijauan ya? Saya sendiri bingung melihatnya karena tidak ada warna yang lebih dominan. Tempat ini sungguh indah. Mungkin bila digunakan untuk lokasi foto pre-wedding, hasilnya akan bagus.
Kami berjalan menyusuri tepi telaga. Tidak lama berjalan, sampailah kami di Batu Tulis. Kata guide kami, nama batu ini Batu Tulis karena bentuknya yang seperti pena. Tapi saya tidak melihat kemiripannya. Maaf ya Mr. Guide… he…he… Mungkin saya saja yang tidak memperhatikan dengan jelas.
Dari Batu tulis kami berjalan lagi, ada beberapa gua yang kami lalui seperti Gua Jaran, Gua Sumur dan Gua Semar tapi gua-gua itu dikunci. Semenjak dari Batu Tulis hingga melintasi gua-gua, saya banyak menjumpai bunga-bunga juga sisa pembakaran arang. Sempat kami bertemu dengan wanita yang berdandan ala Suzana dengan rangkaian bunga dirambutnya yang panjang. Wanita itu sangat ramah dan mempersilahkan kami menikmati keindahan sekitar. Kata guide, wanita itu adalah seorang pembimbing. Saya tidak bertanya tentang apa yang dibimbingnya, karena melihat dari cara berdandan langsung terlintas sesuatu yang mistik dipikiran saya.
Udara dingin membuat saya ingin menyantap sesuatu yang hangat. Kami keluar dari kawasan Telaga Warna dan berputar-putar mencari makanan yang seperti kami harapkan. Tapi di sekitar area itu tidak ada makanan yang kami inginkan. Guide menawarkan mi ongklok, yaitu salah satu makanan khas Wonosobo. Kami bertanya apa itu mi ongklok, guide menjelaskan dan kami pun langsung mengangguk. Dengan kecepatan lumayan tinggi guide membawa kami ke Jl. Ahmad Yani, Wonosobo.
Di sana kami segera memesan mi ongklok, sambil menunggu kami menghabiskan beberapa potong tempe kemul. Mi segera datang dan disajikan dengan beberapa tusuk sate. Tanpa berpikir panjang, saya hampir saja langsung menyantap mi. Untung teman saya langsung melirik ke kamera yang saya bawa, jadi tidak lupa untuk menjepret terlebih dahulu. Di dalam mi ongklok ada beberapa bahan seperti mi (ya jelaslah, namanya juga mi), kol dan kucai kemudian kuah yang agak sedikit kental. Saya bukanlah orang yang bisa menggambarkan rasa makanan seperti Pak Bondan (Mr. Maknyusss) tapi bila disuruh memberi gambaran, rasa mi ongklok ini hampir seperti mi Jawa tapi ada rasa manisnya.
Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, perjalanan kami lanjutkan menuju Jogja. Di dalam mobil, banyak kami habiskan dengan tidur. Akhirnya kami sampai penginapan pukul 19.15 WIB dengan selamat. Tak lupa kami ucapkan terima kasih untuk Mr. Guide yang sudah mengantarkan kami menikmati pemandangan yang luar biasa.
Pukul 21.00 kami ingin merasakan kehidupan malam Jogja. Kami pikir Jogja dimalam hari pasti sepi, ternyata salah. Melintasi tugu Jogja, kami melihat banyak anak muda yang berfoto-foto dengan background tugu. Setelah lelah, kami kembali ke penginapan dan membereskan barang-barang supaya keesokan hari kami tidak terburu-buru.
*****
Pukul 08.00 kami bangun. Tujuan pertama kami adalah Pasar Beringharjo untuk berburu batik. Setelah membeli beberapa potong kemeja batik untuk oleh-oleh keluarga, kami segera menuju pabrik Bakpia Phatuk 25 dengan becak. Bapak tukang becak yang kami tumpangi menawarkan diri untuk menunggu hingga kami selesai berbelanja dan mengantarkan kami ke penginapan. Kami menolak karena takut si Bapak terlalu lama menunggu, tapi dia bersedia menunggu.
Service yang ditawarkan sang bapak tukang becak membuat saya ingat dengan kejadian yang sebaliknya dibeberapa daerah. Karena di daerah tertentu yang pernah saya kunjungi, saya malah ditipu oleh tukang becak yang mengajak saya berputar-putar sehingga biaya yang dikeluarkan lebih banyak. Atau ada juga yang mengantarkan ke tempat yang berbeda dengan tujuan, lalu dia meminta lebih kalau ingin ke tujuan semula.
Beberapa kali kami naik becak di Jogja, selalu mendapat tukang becak yang baik. Mereka ramah, penuh kepedulian dan yang paling penting jujur. Salut buat para tukang becak di Jogja, yang telah membuat para wisatawan merasa nyaman.
Seorang teman yang tengah dinas ke Jogja menjemput kami di depan penginapan. Karena kesibukannya, kami tidak sempat bertemu ketika di Jogja. Dan dihari terakhir dia menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke bandara.
Ketika berada di dalam pesawat, beberapa kali kami mengalami turbulence karena cuaca sedikit tidak bersahabat. Bahkan sempat pesawat seperti hampir terhempas ke bawah. Namun setelah 1 jam yang menegangkan di dalam pesawat kami sampai di Jakarta dengan selamat dan saya bisa menuliskan cerita perjalanan ini.



