dream of krowe

21 Mei 2010

Ke Jogja

Filed under: Jalan-jalan — Lehy @ 4:26 pm

Sebenarnya perjalanan kali ini sama sekali tidak terencana. Apalagi untuk berpikir bepergian di awal tahun seperti ini. Seminggu sebelum berangkat, seorang teman mengajak untuk menemaninya pergi ke Jogja. Awalnya agak ragu , tapi melihat keseriusannya browsing tempat-tempat wisata jogja dan sekitarnya. Akhirnya saya mengiyakan ajakannya. Setelah membeli tiket pesawat Jakarta-Jogja-Jakarta yang paling murah melalui internet, saya ajukan cuti pada atasan untuk 2 hari kerja.

Karena jarak rumah yang agak jauh, maka diputuskan agar saya menunggu di halte yang searah dengan jalan yang akan dilalui teman saya. Tapi karena sang supir taksi kesasar saat mencari rumahnya, maka saat tiba di bandara counter boarding pass dengan tujuan jogja sudah ditutup. Dikarenakan kami tiba pada pukul 05.40 WIB, yang berarti 20 menit sebelum jadwal terbang. Eitsssss….. cerita perjalanan belum selesai sampai di sini.

Mungkin melihat wajah kami yang memelas, sang penjaga segera mengoper kami ke rekan di sebelahnya yang baru saja memasang papan dengan tulisan CLOSE. Setelah sedikit diceramahi, akhirnya kami disuruh segera berlari menuju gate penerbangan. Dan dia segera mengontak rekannya di gate dengan menggunakan HT. Sambil kebingungan karena panik dan baru pertama kalinya masuk ke terminal 3 bandara Soekarno-Hatta, kami berlari-lari sambil bertanya-tanya ke orang-orang yang kami temui. Jadi ingat acara di TV, Amazing Race.

Tanpa terasa 45 menit kami lalui di dalam pesawat yang akhirnya pukul 06.45 WIB mendarat dengan selamat di bandara Adi Sucipto, Jogja. Kami menunggu jemputan (mobil yang disewa teman saya melalui iklan di internet). Kami langsung meluncur ke daerah pantai yang terletak di kawasan Kabupaten Gunung Kidul.

Pantai Krakal

Pantai Krakal

Pantai pertama yang kami           kunjungi adalah Krakal, menyusuri pantai ini memang sungguh menyenangkan. Suasana yang tenang, aroma laut yang segar, desiran angin dan bunyi ombak membuat badan terasa relax.

Setelah puas menjelajahi tepi pantai Krakal, kami beranjak ke pantai Kukup. Pantai yang sangat indah, seperti berada di Bali. Keasyikan berada di pantai, kami sampai lupa kalau dari pagi belum mengisi perut sama sekali. Musik-musik yang terdengar dari perut mengingatkan bahwa kami harus segera mengisi “bahan bakar”.

Pantai Kukup

Pantai Kukup

Kami menuju Pantai Baron, di sana ada penjual ikan-ikan segar yang juga menyediakan jasa masak. Setiap harga yang diberikan penjual sudah termasuk harga jasa masak. Kami memilih menu ikan bakar, cumi-cumi dan kepiting bumbu asam manis. Untuk ikan dan cumi lumayan enak tapi untuk kepiting tidak tahu rasanya karena tidak bisa ikut menikmati.

Hari masih siang dan rugi bila langsung menuju hotel, apalagi waktu sewa mobil masih lama. Setelah berbicara dengan guide/driver kami yang baik ini, akhirnya diputuskan perjalanan selanjutnya menuju Candi Prambanan dan Bunker Merapi di Kaliadem.

*****

Prambanan Temple

Kondisi candi sedikit memprihatinkan, terdapat beberapa retakan di dinding candi akibat gempa yang melanda Jogja dan sekitarnya beberapa tahun lalu. Terutama Candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, candi ini sudah dipagari dengan pagar kawat karena takut membahayakan pengunjung bila terlalu dekat. Namun bagi saya hal itu tidak mengurangi kecantikan dan kemegahan Candi Prambanan.

Kami beranjak ke Candi Wisnu yang terletak di sisi Candi Siwa, di dalam candi kami menjumpai ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma di sisi lain Candi Siwa, kami menjumpai satu ruangan berisi arca Brahma. Kami pun mengelilingi candi-candi pengapit yang berada di kawasan Candi Prambanan. Setelah puas berkeliling, kami segera ke mobil dan bergegas menuju Kaliadem.

Memasuki kampung Mbah Marijan, kami membuka jendela mobil selebar-lebarnya. Kami biarkan udara alam masuk ke paru-paru yang selama ini selalu menghirup polusi di Jakarta. Sampai di kawasan sekitar bunker, guide kami bercerita sedikit tentang keadaan sebelum dan saat terjadinya luncuran material Gunung Merapi. Di sebelah Kaliadem, terdapat sebuah sungai yang bernama Kali Gendol yang pada awalnya akan menjadi daerah aliran lava. Namun diluar dugaan luncuran lava justru melompati Kali Gendol, bukan mengalir ke dalamnya.

Kami melewati sisa-sisa lava yang sudah mengeras menjadi pasir dan bebatuan, namun cuaca sedang tidak bersahabat rintik-rintik hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Dengan setengah berlari, kami menuju bunker untuk berteduh di depan pintu bunker. Karena pintu terbuka sesekali kepala saya celingukan ke dalam, saya melihat sisa lava yang sudah menjadi pasir. Tiba-tiba terbayang orang-orang yang terkurung di dalam sana ketika merapi meletus, jadi merasa agak ngeri untuk berlama-lama melihat ke dalam. Sekitar 15 menit kami berteduh di sana hingga hujan reda.

Dalam perjalanan menuju mobil, saya sempat melihat tukang jadah bakar. Ingin rasanya mampir dan mencicipinya, tapi hujan mulai turun kembali dan niat itu saya urungkan. Karena sudah lelah maka tujuan selanjutnya langsung menuju penginapan di daerah Kemetiran, Rumah Eyang Heritage. Cukup nyaman dan harga pun terjangkau.

********* Bersambung *********

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Silver is the New Black. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.