Perjalanan kali ini menuju Museum Prasasti yang terletak di daerah Tanah Abang bersama dengan tiga orang teman mengendarai sepeda motor. Dalam perjalanan sempat diguyur hujan deras sehingga harus berteduh di bawah stasiun kereta Juanda. Syukurlah akhirnya hujan reda, tapi belum lama kami berjalan hujan kembali mengguyur sehingga kami kembali berteduh di parkiran sebuah gedung.
Jalan menuju Museum Prasasti tidaklah terlalu sulit, memasuki Jalan Abdul Muis pada lampu merah pertama yang dijumpai tinggal belok ke arah kanan. Lokasi museum persis di samping Kantor Walikota Jakarta Pusat.
Di pintu masuk ada sebuah loket untuk melayani penjualan tiket masuk. Harga tiket Rp 2.000 untuk dewasa, sementara untuk pelajar/mahasiswa harga lebih murah namun saya lupa berapa nominalnya.
Begitu memasuki pintu, dapat dijumpai sebuah patung besar wanita yang sedang bersedih. Tak tahu harus memulai dari sebelah mana untuk menjelajahi Museum (areal makam) maka kami bergerak ke sebelah kanan terlebih dahulu. Di tempat ini ada beberapa makam yang di atasnya terdapat patung yang terbuat dari batu marmer. Nuansa makam seperti di Eropa sangat kental terasa.
Kebiasaan saya sebelum mengunjungi suatu tempat adalah browsing informasi mengenai tempat tersebut. Sempat saya baca mengenai biaya yang tidak masuk akal bila kita membidik gambar meskipun dengan menggunakan kamera saku bukan kamera SLR dan hanya boleh mengambil gambar dengan kamera HP saja. Namun ketika saya dan teman-teman berada di sana, kami tidak dikenai biaya apapun untuk kedua kamera saku yang kami bawa. Walaupun pada awalnya agak ragu mengeluarkan kamera, takut tiba-tiba ditodong oleh oknum seperti yang saya baca di blog tetangga.
Potensi untuk dijadikan destinasi wisata sejarah cukup besar, terbukti dari terlihatnya beberapa wisatawan asing yang berkunjung, tapi sangat disayangkan agak kurang terawat. Walaupun begitu, kondisi makam masih lebih baik dibandingkan dengan peninggalan makam masa penjajahan di tempat lain yang pernah saya datangi sebelumnya. Semoga saja dimasa datang akan ada perhatian khusus bagi tempat wisata sejarah, seperti tulisan-tulisan yang menggambarkan sejarah keberadaan Kerkoov land ini.
4 Mei 2011
Taman Prasasti
2 Mei 2011
Negara tetangga, Singapura
Sudah sejak lama ingin merasakan bagaimana rasanya di luar negeri. Eittssss… tunggu dulu, jangan cap saya saya tidak cinta dengan Indonesia. Saya sangat cinta dengan negeri ini, tapi bolehlah sekali kali saya lakukan uji banding ke luar negeri. Bolehkan… toh saya pakai uang pribadi dengan mengurangi beberapa hal selama setahun dan sama sekali tidak menggunakan dana anggaran dari sana-sini he..he..
Akhirnya keinginan itu tercapai juga. Singapura… Negara tetangga yang luasnya hampir sama dengan Jakarta. Perencanaan ke sana sudah saya buat sejak setahun sebelum keberangkatan, dikarenakan tiket yang saya beli untuk keberangkatan ditahun berikutnya (korban promo tiket murah). Saya membeli 2 tiket (untuk saya dan seorang teman) dengan harga Rp 750.000 untuk 2 tiket PP (Jakarta-Singapura-Jakarta).
Tiket sudah ditangan, tinggal persiapan-persiapan lain seperti paspor, menyisihkan tabungan dalam bentuk dollar Singapura selama setahun dan browsing berbagai tempat-tempat yang mesti dikunjungi selama di sana.
Karena menurut informasi yang saya dengar, bahwa pembuatan paspor hanya memakan waktu sepuluh hari maka saya baru mengurus tepat 14 hari (2 minggu) sebelum keberangkatan. Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, pembuatan paspor cukup menyita waktu.
Pertama kali datang saat saya menyerahkan formulir berikut dokumen-dokumen yang menjadi syarat pengajuan dengan nomor antrian yang cukup panjang. Kemudian tiga hari kemudian harus kembali lagi untuk diwawancara, yang diawali dengan antri pembayaran, antri pengambilan foto dan sidik jari dan pastinya juga antri wawancara. Setelah proses itu berakhir, saya diberi tanggal pengambilan paspor. Saat saya lihat tanggal yang tertera, saya kaget karena itu adalah tanggal keberangkatan saya. Sempat saya bertanya kepada petugas, apakah bisa diambil sehari sebelumnya. Tapi petugas hanya berkata “Tergantung pusat, kalau sudah jadi ya bisa langsung diambil.”.
Dalam masa penantian itu, saya merasa agak tegang. Sehari sebelum jadwal pengambilan, seorang teman menawarkan diri untuk mengambil karena dia memang ada kepentingan di daerah itu juga. Saya buat surat kuasa bermaterai berikut foto copy KTP. Tak berapa lama dia menelepon dan memberi kabar ternyata paspor saya sudah siap tapi dia tidak boleh mengambil karena yang diijinkan mengambil hanya yang bersangkutan ataupun keluarga yang berada dalam satu KK (Kartu Keluarga). Dengan terburu-buru dia menjemput saya di kantor dan mengantarkan mengambil paspor. Pelajaran berharga tentunya buat saya supaya lain kali tidak menunda-nunda waktu untuk mengurus hal-hal yang seperti ini.
*****
Jadwal penerbangan pukul 11.00 WIB, tapi untuk berjaga-jaga saya berangkat dari rumah menuju bandara pukul 08.00 WIB dengan menggunakan Bus DAMRI. Untuk menghemat waktu dari rumah masing-masing kami langsung menuju terminal Bus DAMRI. Ternyata teman saya sudah tiba terlebih dahulu di terminal dan berada di dalam bus yang sama dengan saya. Perjalanan menuju Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta cukup lancar. Setelah check in kami mencari tempat pelayanan bebas fiskal yang diperuntukan bagi pemilik NPWP. Pelayanan di tempat ini cukup memuaskan karena cepat dan yang terpenting keramahan petugasnya. Setelah mendapat tanda bebas fiskal pada tiket, kami meluncur ke bagian imigrasi.
Setelah lebih dari satu jam menunggu di bandara (akibat datang kepagian ;p) akhirnya pesawat lepas landas. Setibanya di Changi Airport kami langsung menuju pengambilan bagasi, kemudian melewati bagian imigrasi dengan sangat lancar. Berdasarkan informasi dari beberapa teman yang sudah pernah ke Singapura, ketika di pesawat akan diberikan lembar kertas untuk bagian keimigrasian dan harus diisi dengan lengkap terutama alamat yang akan dituju. Karena menurut beberapa teman yang tidak mengisi lengkap, mereka akan disuruh mengisi secara lengkap terlebih dahulu dan mengantri kembali.
Di luar bandara kami menunggu seorang teman lagi yang berangkat dari Batam. Tapi karena ada sedikit masalah dia agak terlambat tiba. Untuk mengisi waktu kami berputar-putar di bandara, sedikit berfoto-foto dan karena lapar mata kami mencari-cari tulisan foodcourt tapi tidak kelihatan. Akhirnya kami bertanya ke petugas informasi. Dia menunjukkan tempat makan khusus pekerja bandara. Setelah menanyakan dari mana kami berasal, dia langsung menyebutkan menu makanan yang tersedia di sana seperti ayam penyet, sayur asam, tempe, rendang dan lain-lain. Ternyata yang disampaikan petugas benar, di tempat makan terdapat makanan yang disebutkan petugas juga beberapa makanan khas Indonesia lainnya.
Tapi karena ingin mencoba menu lain, kami memesan kwetiauw ala Singapura dengan taburan teri di atasnya. Harga makanan di sana agak mahal sekitar 3-5$ (Kurs saat itu 1$ Singapura = Rp 6.700). Ya… lumayan mahal buat kami yang terbiasa keluar-masuk warteg. Dan seperti yang sudah diketahui, harga air mineral di Singapura cukup mahal berkisar 0,8-1,6$ (botol ukuran 600 ml) bahkan air mineral produksi Indonesia di sana harganya mencapai 1,6$ (Rp 10.720) padahal di Indonesia hanya Rp 1.500 (kalau beli di mini market, kalau di lampu merah atau di kaki lima atau asongan Rp 3.000).
Setelah menunggu agak lama, akhirnya teman kami tiba. Langsung kami naik kereta yang menghubungkan bandara dengan stasiun MRT. Dengan bekal fevo card yang saya pinjam dari teman yang pernah ke sana, saya tidak perlu repot-repot membeli tiket untuk naik MRT. Di Singapura tidak perlu khawatir akan tersesat karena peta, brosur dan informasi tentang Singapura serta tempat wisata sangat mudah didapatkan dan semuanya gratis. Dengan mudah dapat kita temukan di bandara, tempat wisata, Singapore Visitors Center dan tempat-tempat lainnya.
Tiba di stasiun Orchard kami turun dan berkeliling sebentar di sekitar Orchard Street. Karena sudah mulai lelah kami putuskan untuk mencari penginapan di Lucky Plaza. Tapi entah kenapa semua penginapan di sana penuh. Kami mengetuk pintu di setiap lantai tapi tidak ada hasil. Akhirnya kami meminta saran dari seorang teman, dia memberi alamat sebuah hotel di Geylang Street (agak kaget juga) tapi dia bilang alamat tersebut berada di wilayah yang agak jauh dengan lokasi “dolly” itu.
Kami putuskan naik taksi ke wilayah tersebut. Di dalam taksi kami berbincang dengan supir dan dia memberi saran untuk mencari penginapan disekitar Balistier Street saja karena reputasinya lebih baik. Tiba di Balistier kami melihat ada hotel di seberang jalan, kami putuskan menuju hotel tersebut tapi ternyata penuh. Bersama kami ada 2 orang pria berkulit hitam yang juga berburu hotel. Langsung kami menuju hotel berikutnya sambil berlari mendahului mereka. Tapi tetap saja mereka lebih cepat. Ternyata… hotel ke-2 juga penuh. Kami dan 2 pria tadi keluar sambil mata kami mencari hotel lain. Tiba-tiba 2 pria itu berlari menuju hotel yang berada tidak jauh dari situ. Tapi kami tidak berusaha mendahului mereka lagi karena kami melihat hotel lain di seberang.
Akhirnya perjuangan mencari penginapan dari sore hingga malam berakhir sudah. Kami mendapat kamar di lantai 4, New Orchid Hotel. Waktu menunjukkan pukul 21.00 waktu Singapura. Setelah mandi dan mengistirahatkan kaki hingga pukul 23.00, kami menelusuri jalan Balistier untuk mencari makan. Kami masuk ke rumah makan kecil dan memesan nasi goreng ayam (makanan paling enak selama di Singapura menurut saya). Selesai makan kami kembali ke hotel, kemudian tidur dan mengumpulkan tenaga kembali untuk perjalanan esok.
***
Hari ke-2 dimulai dengan mengunjungi Bugis Street yang terkenal sebagai tempat belanja murah. Tapi karena tidak ada niat untuk berbelanja, kami hanya melihat-lihat saja kemudian makan siang. Dari sini kami naik becak menuju ikon kota Singapura, Merlion. Cukup banyak wisatawan yang berkunjung saati itu. Bahkan sebagian besar berasal dari Indonesia. Dari ikon negara ini, perjalanan kami lanjutkan menuju monumen yang bertuliskan OUR GLORIOUS DEAD. Berjalan kaki di sana sangat nyaman, meskipun tiap jalan satu dengan yang lain berjauhan. Tidak terasa kami melalui hotel Raflles, melihat bangunannya seperti peninggalan masa penjajahan. Karena lelah seharian berputar-putar, kami putuskan untuk kembali ke penginapan dengan MRT.

Setelah beristirahat beberapa saat di penginapan dan kaki kami sudah bisa diajak kompromi, perjalanan malam hari kami lanjutkan dengan menyusuri Orchard Street melewati Istana Park, Plaza Singapura dan berakhir hingga Statsiun Dhoby Ghaut kemudian naik MRT menuju Novena disambung taksi untuk kembali ke penginapan di Balistier Street. Hari ini berakhir dengan ritual penempelan koyo yang super besar-besar di sekujur tubuh dari pinggang, paha hingga betis. Memang melelahkan tapi menyenangkan dan kami menikmatinya.
***
Hari ke-3
Tujuan kami adalah ke Sentosa Island. Karena usul teman yang sudah pernah ke tempat ini sebelumnya, kami membeli tiket menuju Sentosa berikut karcis untuk menonton Song of The Sea. Pagi-pagi kami sudah bangun menuju Vivo City untuk membeli tiket. Tiket masuk sentosa sebesar $3 sementara untuk Song of The Sea $10. Karena pertunjukan baru nanti malam, kami putuskan untuk ke Lucky Plaza untuk membeli oleh-oleh. Setelah selesai membeli sedikit oleh-oleh berupa coklat berbentuk Merlion, dan beberapa benda berciri khas Singapura kami putuskan kembali ke penginapan untuk menghemat energi untuk perjalanan di sore hari karena kaki kami sudah merasa tidak sanggup bila harus dipaksa berjalan.
Pukul 14.00 setelah mengistirahatkan badan, kami mulai bergerak untuk berkeliling lagi. Tujuannya adalah Sentosa Island. Sampai di Vivo City, kami habiskan waktu berkeliling melihat-lihat produk ternama di toko-toko. Dibandingkan di Mal Jakarta ada beberapa produk dengan kualitas dan model yang sejenis dijual dengan harga lebih murah. Bahkan bisa lebih murah hingga 30%. Tapi jangan tanya apa yang kami beli, karena tidak ada satu pun he..he…he…
Setelah puas berkeliling, kami langsung menuju Sentosa Station untuk naik transportasi menuju Sentosa Island. Baru berkeliling sebentar di sekitar pantai, hujan turun dengan deras. Akhirnya kami habiskan waktu dengan berteduh di depan Starbuck Coffee, menunggu pertunjukan Song of The Sea dimulai.
Karena hujan masih terus turun, akhirnya kami membeli jas hujan untuk digunakan saat menonton pertunjukkan. Pertunjukkan cukup menarik, permainan lampu dan laser yang digunakan sangat memukau. Walaupun tidak terlalu mengerti alur ceritanya karena suara hujan, penonton, para pemain dan ombak saling beradu.
Selesai pertunjukkan kami langsung kembali ke penginapan. Pukul 23.00 kami tiba, langsung mem-packing barang-barang untuk perjalanan pulang esok hari.
***
Hari ke-4
Malas sekali rasanya beranjak dari tempat tidur, padahal sudah pukul 09.00, tapi harus bangun karena kami tidak mau tertinggal pesawat. Selesai mandi dan sedikit membenahi barang-barang bawaan, kami bergegas menuju Novena dengan naik bus. Dari Novena kami lanjutkan menuju Bandara Changi dengan MRT. Tiba di bandara agak sedikit kebingungan mencari tempat check in, tapi petugas yang ramah membuat kami terbantu. Setelah check ini, kami langsung menuju ruang tunggu melalui pemeriksaan barang dan imigrasi yang cukup ketat. Dalam perjalanan menuju ruang tunggu kami sempat mencoba fasilitas internet gratis di bandara.
Perjalanan cukup lancar karena tidak ada kendala apapun dan pesawat mendarat tepat waktu. Namun sedikit kecewa ketika tiba di Bandara Soekarno Hatta karena menunggu bagasi agak lama. Padahal saya sudah perhitungkan, masih bisa mengikuti satu mata kuliah lagi, setelah melewatkan mata kuliah yang sebelumnya. Ya meskipun terlambat tiba di kampus, tapi saya bersyukur karena bisa tiba di Jakarta dengan selamat.
26 Oktober 2010
Museum Nasional
Hari yang cerah untuk memulai perjalanan singkat menjelajahi tempat-tempat yang unik. Sudah lama tinggal di Jakarta tapi belum pernah ke Museum Nasional. Bukan Monas (monument Nasional) loh… Museum nasional letaknya berdekatan dengan Monas dan mungkin lebih dikenal dengan nama Museum Gajah (mungkin karena ada patung gajah di depan museum jadi disebut demikian).
Kendaraan yang saya pakai kali ini adalah bus umum (angkutan massal yang murah meriah). Bus yang saya tumpangi melewati Pasar Baru kemudian berbelok melewati Gedung Kesenian Jakarta dan berbelok lagi melewati Kantor Pos pusat dekat lapangan Banteng. Ketika bus berbelok lagi saya melihat bangunan Gereja Katedral yang sangat unik dari segi arsitekturnya, akhirnya saya putuskan untuk turun dari bus dan menikmati keunikan bangunannya. Saya pun memasuki halaman Gereja yang dipadati oleh mobil, karena siang itu ada pasangan yang akan menerima pemberkatan pernikahan di sana. Dengan segera saya ambil kamera saku dari tas saya dan dengan segera melancarkan gaya sok fotografer. 
Tak berapa lama saya teringat seorang teman yang rumahnya berada disekitar wilayah Katedral. Segera saya mengontaknya, dan dia bersedia menemani saya siang itu. Sambil duduk di dekat pos satpam, saya menunggunya. Tak berapa lama dia muncul dengan membonceng motor. Setelah sedikit berbicara mengenai tujuan saya selanjutnya akhirnya kami putuskan untuk berjalan kaki saja menuju Museum Nasional. Olahraga yang lumayan juga pikir saya.
Akhirnya kami berjalan menyusuri Jalan Veteran. Banyak bajaj, taksi ataupun ojek yang menawari kami, tapi demi kesehatan kami menolaknya he..he… (kesehata kantong) Menyusuri Jalan Veteran akhirnya kami berbelok di lampu merah sebelum perempatan Harmoni. Setibanya di pertigaan Jalan Merdeka (Istana Negara) kami agak ragu untuk berbelok ke kanan karena takut tidak ditegur oleh penjaga istana J. Akhirnya kami langsung menyeberang melintasi tepi trotoar Monas.
Setibanya di seberang Museum Nasional kami langsung membeli tiket masuk yang per orangnya dikenai Rp 5.000,- (tarif dewasa). Sebelum masuk ke dalam, wajib menitipkan tas pada loker yang sudah disediakan. Kami diberi nomer loker 33 oleh petugas museum yang ramah.
Kami langsung menuju sebuah ruangan di dalam museum yang di sebelah kanan dindingnya terdapat gambar wajah-wajah masyarakat dari Papua dan sebelah kirinya terdapat miniatur wilayah Indonesia. Suasana museum ini berbeda dengan museum lain yang sebelumnya saya kunjungi. Di tempat ini udaranya cukup terasa sejuk karena terdapat alat-alat pendingin.
Ketika kami memasuki lebih ke dalam lagi, kami banyak menjumpai turis-turis asing di dalam. Sebenarnya sebagai anak negeri ini saya agak kecewa dengan kenyataan ini. Sementara orang asing ingin mengetahui budaya Indonesia, justru banyak dari kita malah tidak peduli atau tidak mau tahu dengan tempat-tempat seperti ini.
Terdapat berbagai benda khas daerah seperti senjata, patung, kerajinan tangan dan alat-alat musik yang disuguhkan di museum ini. Semua benda yang ada dilengkapi dengan catatan singkat namun jelas dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sehingga tidak usah bingung bila ingin tahu benda apa yang terdapat di sini.
Di bagian belakang terdapat sebuah kano khas Papua yang memiliki panjang sekitar lima meter. Tiba-tiba jadi membayangkan andai saja suatu saat saya berkunjung ke bagian paling timur Indonesia, maka saya pasti akan mencoba menaikinya. Impian menuju ke sana selalu ada karena saya ingin sekali melihat keindahan kepulauan Raja Ampat yang terkenal itu.
Ada sebuah pintu yang terbuka dan berada di samping bangunan. Kami memasuki ruangan dibalik pintu itu yang di dalamnya terdapat berbagai keramik-keramik baik yang masih utuh maupun pecahan-pecahannya. Ada yang berasal dari masa pemerintahan Majapahit juga yang berasal dari negara lain seperti China, Vietnam, Thailand, Jepang, Timur Tengah/Arab dan Eropa.
Kami melewati pintu lain menuju bangunan museum yang pertama kami masuki melewati tempat terbuka yang terdapat patung-patung batu di sisinya dan patung seekor lembu di bagian tengah. 
Melewati bangunan itu kami menuju bangunan berikutnya yang terdiri dari beberapa lantai namun nantinya kami hanya menjelajahi hingga lantai ke-4.
Di lantai pertama terdapat gambar manusia purba, tengkorak manusia purba, kubur prasejarah Gilimanuk dan gambaran manusia pra sejarah. Di lantai ke-2 terdapat benda-benda yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat di jaman dulu seperti; kincir angin dari kayu, peralatan berburu, sepeda, miniatur perahu pinisi, dan lain-lain. Di lantai ke-3 terdapat hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat seperti; rumah-rumah adat dan juga beberapa batu prasasti (tugu, ciareuteun dll). Di lantai ke-4 terdapat emas dan perhiasan yang berasal dari berbagai daerah. Namun di tempat ini terdapat tanda larangan menggunakan kamera, dan karena patuh pada aturan maka saya tidak menggunakan kamera di sini.
Selesai memutari lantai 4, kami langsung turun ke lantai 1 dan keluar dari ruangan. Sebenarnya ada sebuah ruangan lagi di sebelah namun karena ada urusan lain yang mesti kami kerjakan sehingga kami menunda memasuki ruangan itu. Ya… tertunda karena kami yakin suatu saat kami akan kembali menjelajahi seluruh isi museum ini.
Keluar dari bangunan museum, kami berpapasan dengan rombongan wisatawan yang berasal dari wilayah Asia Timur. Mereka sepertinya tertarik dengan budaya bangsa ini, tapi mengapa kita yang memiliki budaya justru kadang acuh dengan warisan yang besar ini? Kenapa kita tidak mau masuk secara rombongan ke museum? Kalaupun ada itu hanyalah anak-anak sekolah yang mengadakan study tour.
Tidak ada yang mesti disalahkan, saya hanya berharap untuk masa yang akan datang semoga museum-museum di negeri ini akan makin banyak dikunjungi wisatawan. Bukan hanya wisatawan asing tapi juga wisatawan domestik.
16 September 2010
Wisata Pesisir
Wisata pesisir… mendengar kata itu pasti pikiran kita langsung melayang ke daerah pantai. Kali ini saya menelusuri pantai di kawasan utara Jakarta. Melewati jalan arteri Marunda dengan menggunakan motor. Cuaca panas dan debu dari terpaan truk pengangkut container tidak mengurungkan niat saya untuk melihat seperti apa tempat wisata yang digandrungi oleh masyarakat sekitar yang tidak bisa menikmati fasilitas wisata dengan polesan modern dan memadai seperti wisata pantai yang juga berada di wilayah Jakarta Utara dikarenakan masalah ekonomi.
Melewati jembatan Marunda harus sedikit berhati-hati, karena terdapat lubang di tiap jalannya. Menurut informasi sudah beberapa kali jembatan rusak dan kemudian direnovasi kembali, namun beberapa saat rusak lagi. Mungkin hal ini terjadi karena jalur ini adalah jalur utama bagi truk container untuk mencapai kawasan industri Marunda.
Tidak jauh dari jembatan terdapat pertigaan yang disebut Pasar Bebek, walau nama tempat ini adalah Pasar Bebek tapi jumlah bebek yang dijual tidak terlalu banyak. Malahan didominasi oleh pedagang ayam. Di pasar ini juga terdapat penjual nangka, jambu mete (jambu monyet), blewah dan beberapa hasil kebun lainnya.
Perjalanan terus saya lanjutkan ke arah timur, di sisi kanan dan kiri terdapat tambak pemancingan ikan. Ada beberapa orang yang memancing atau sekedar menonton orang yang memancing :p 

Setiba di sebuah pertigaan saya berbelok ke arah STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Dari sini saya menelusuri jalan halus menuju ke bangunan rumah susun. Ada beberapa rumah susun yang berdiri tegak tapi sepertinya masih kosong tidak berpenghuni.
Beberapa saat saya berkeliling melihat sekitar bangunan rumah susun, menuju salah satu cagar budaya Rumah Si Pitung, jawara dari Betawi. Kawasan Rumah Si Pitung terdapat di tengah pemukiman warga. Rumah si Pitung adalah sebuah bangunan rumah panggung berwarna merah yang konon digunakan oleh Pitung untuk bersembunyi dari kejaran Belanda. Untuk memasuki rumah ini harus menaiki sebuah tangga dan melepaskan alas kaki. Di beranda setiap pengunjung akan disambut oleh seorang penjaga dan pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu.
Di rumah ini seperti rumah pada umumnya terdapat beranda, ruang tamu, kamar, ruang makan juga dapur. Di tiap dinding terdapat tulisan-tulisan yang menggambarkan kisah perjalanan sang jawara dalam usahanya membantu rakyat, menghadapi Belanda juga bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Ada sebuah koper kuno yang terbuat dari besi yang sudah berkarat. Mungkin koper ini dulu digunakan untuk menyimpan hasil rampasan yang kemudian diberikan kepada rakyat, karena tidak ada keterangan yang menjelaskan sehingga saya berasumsi sendiri. Di sisi lain dari koper ini terdapat peta Jakarta tempo dulu dengan tulisan di atasnya PLATTEGROND VAN BATAVIA.
Selesai mengelilingi rumah, perjalanan saya lanjutkan menuju salah satu proyek pemerintah dalam mengatasi banjir yaitu Banjir Kanal Timur (BKT). Mengikuti tepian kanal menuju pantai. Di pantai terdapat beberapa orang yang memancing di tepi muara. Ada beberapa yang beruntung mendapat ikan tapi ada juga yang masih berharap ada yang mampir di kailnya. Tidak jauh dari situ banyak orang yang mengapung dengan ban dalam mobil. Ban mobil bekas itu ternyata disewakan untuk para pengunjung yang mau berenang.
Kondisi pantai sangat memprihatinkan, terdapat sampah di sana-sini. Kebanyakan sampah plastik yang hanyut dibawa air laut. Akibat ketidakpedulian masyarakat terhadap kebersihan sehingga mencemari tempat wisata rakyat ini. Sebenarnya ironis sekali melihat keadaan ini, mereka yang ingin mencari hiburan murah malah disuguhi sampah. Bila saja pantai di wilayah ini di akomodir dengan baik oleh instansi yang berwenang mungkin saja kawasan ini bisa dijadikan wisata pantai untuk rakyat seperti Anyer atau Tempat Hiburan Rakyat (THR) seperti di Lampung.
Hingga petang menjelang saya masih asyik duduk menikmati angin laut sambil melihat lalu lalang para pengunjung. Bergabung bersama mereka yang membutuhkan hiburan tanpa merogoh kocek… Saya berharap, tempat seperti ini akan selalu ada. Jangan melenyapkan tempat seperti ini untuk dibangun cottage, hotel atau bahkan mall yang hanya dapat dinikmati mereka yang memiliki uang.
26 Agustus 2010
Kota Tua – Jakarta
Pertengahan 2010 yang super panasssss….. Bingung tidak ada yang harus dilakukan. Tiba-tiba muncul ide untuk berkeliling Jakarta. Tapi ke mana ya? Ehm… Kota Tua. Sudah lama ingin ke sana tapi tidak pernah terlaksana. Kapan lagi, mumpung ada waktu luang.
Segera saya mengontak seorang teman yang pernah bilang ingin ke sana juga. Ternyata dia bersedia, syukurlah… ada yang menemani. Setelah berjanji bertemu di suatu tempat, akhirnya kami meluncur ke sana dengan menaiki si mobil biru muda, mikrolet.
Tiba di perempatan Museum Bank Mandiri, kami segera turun. Sebenarnya ingin mencoba masuk ke Museum Bank Mandiri tapi karena ingin segera ke Kota Tua, kami tidak jadi masuk. Kami putuskan nanti setelah dari Kota Tua baru ke Museum Bank Mandiri. Karena tidak tahu di mana posisi persis Kota Tua, saya bertanya ke penjual liang teh yang mangkal di depan Museum Bank Indonesia, mengenai kendaraan menuju ke sana. Si penjual mengerutkan dahinya, sambil menunjuk ke tikungan yang tidak jauh dia berkata : “itu sudah Kota Tua mbak…”
Selama ini saya tahu Kota Tua ada di sekitar wilayah Kota, tapi tidak pernah tahu dimana tepatnya. Ternyata persis di dekat staisun Jakarta-Kota, padahal saya sering ke stasiun. Jadi malu sama si Bapak he…he… Tapi daripada tersesat kan memang lebih baik bertanya.
Ternyata siang itu kawasan Kota Tua lumayan ramai. Banyak penjual makanan dan aksesoris di sana. Juga banyak turis asing yang berkeliling sambil jepret sana-sini. Ternyata selain Museum Fatahillah, di sana juga terdapat beberapa museum lainnnya. Museum pertama yang saya masuki adalah museum wayang.
Sebelum masuk ke museum, kami membaca tarif yang tertera di depan museum. Ternyata tidak mahal, hanya dengan Rp 2000 saja kami sudah bisa masuk dan melihat-lihat ke dalam. Awalnya ingin menggunakan kartu mahasiswa supaya mendapat potongan menjadi Rp 1000, tapi sudahlah… saya tidak mau ribet mengeluarkan kartu dari dompet.
Di dalam kami disambut beberapa wayang di sisi kanan dan kiri lorong. Ada wayang Hanoman, Gatot Kaca, Srikandi dan lainnya. Saya tidak tahu berasal dari mana wayang tersebut atau pun jenisnya. Sebenarnya takut salah menjabarkannya karena saya tidak begitu mengerti dengan dunia perwayangan. Cuma sesekali suka melihat saja di televisi kalau dalang-dalang sedang beraksi. Itupun tidak semua bahasanya saya mengerti. Jadi dalam tulisan kali ini, saya tidak bisa menjabarkan mengenai wayang yang ada di dalam museum. Tapi di bagian ini kebanyakan adalah wayang golek.
Sampai di ujung lorong terdapat bagian yang terbuka, di sana terdapat tulisan dalam bahasa Belanda, maaf lagi tidak bisa menjelaskan apa isinya he.. he..
Masuk ke bagian belakang terdapat wayang-wayang yang terbuat dari karton. Terdapat pula wayang karton Daendels. Agak ke belakang sedikit ada alat-alat musik, gambang kromong.
Ke tingkat dua terdapat berbagai jenis wayang yang lain, ada wayang kulit, wayang Cina, wayang Betawi dan jenis wayang dari beberapa daerah. Di sisi lain terdapat berbagai alat gamelan yang biasa dipakai oleh dalang untuk mengiringi pertunjukan wayangnya.
Keluar dari Museum Wayang, kami menuju Museum Seni Rupa dan Keramik. Harga tiket sama dengan Museum Wayang. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 WIB, penjaga loket mengatakan kepada kami bahwa museum akan tutup pukul 15.00 WIB. Dia bertanya apakah kami akan tetap masuk atau tidak. Tapi kami memutuskan untuk tetap masuk ke dalam, walau waktu yang tersisa tinggal sedikit.
Memasuki ruangan depan terdapat barang-barang pecah belah seperti piring, mangkuk dan beberapa benda yang terbuat dari keramik. Ada beberapa yang sudah pecah di bagian pinggirnya. Di bagian belakang ada tangga melingkar menuju lantai atasnya. Tangga di bagian ini cukup sempit jadi harus bergantian menunggu pengunjung yang akan turun dulu baru yang di bawah bisa naik.
Di bagian atas terdapat beberapa keramik seperti yang di bawah juga beberapa patung Dewi Kwan Im dan beberapa patung dewa lainnya (saya tidak tahu dewa apa). Mengingat waktu yang tersedia tinggal sedikit, kami tidak berlama-lama di sini. Segera kami turun dan menuju ke bagian belakang. Di bagian ini terdapat lukisan-lukisan dari para maestro lukis seperti Affandi.
Di sisi lain bangunan (di seberang) juga terdapat beberapa lukisan. Di bagian ujung terdapat guci-guci yang terbuat dari tanah liat. Guci-guci ini ada dalam berbagai ukuran dari yang terkecil hingga ke yang terbesar. Di bagian ujung terdapat kendi-kendi (tempat air dari tanah liat) yang memiliki bentuk sangat unik. 
Sebenarnya ada tangga seperti di sisi bangunan sebelumnya, tapi kami belum sempat naik karena dari luar para penjaga memberitahu bahwa museum akan segera ditutup jadi kami segera menuju pintu keluar.
Setelah dari museum seni rupa, kami menuju museum fatahillah. Kami kecewa, karena museum ini juga sudah tutup. Ternyata semua museum ditutup pada pukul 15.00 WIB. Akhirnya kami putuskan untuk berkeliling saja di sekitar museum. Sambil mencicipi es potong yang murah dan enak, cuma Rp 2.000/potong.
Sedikit saran buat yang akan berwisata di Kota Tua, buat yang tidak kuat panas dan takut hitam supaya membawa topi, jaket atau payung. Jangan datang di menit-menit terakhir museum akan ditutup, sehingga tidak bisa masuk ke museum yang berada di seputar Kota Tua seperti Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahillah sehingga tidak kecewa seperti kami.
Untuk info, selain museum yang sudah saya sebutkan tadi juga ada Museum Bahari yang ada di Jalan Pakin. Untuk ke sana cukup naik Mikrolet M15 (Kota-Bandan-Tanjung Priok). Sebenarnya juga ingin ke sana tapi mengingat jam buka museum sudah tutup, kami putuskan untuk pulang saja.
2 Juli 2010
Ke Jogja (2) & Dieng
Hari ke-2 di Jogja.
Tepat pukul 05.00 WIB setelah mengepak barang-barang ke dalam ransel dan mengembalikan kunci kamar ke penjaga penginapan, kami siap menuju jemputan di pinggir Jalan Kemetiran. Langit masih gelap, apalagi semalam hujan turun dengan deras. Tidak terlalu lama menunggu, jemputan pun tiba.
Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, kami meluncur menuju candi Borobudur demi mengejar sunrise dari balik candi. Tidak sampai 45 menit, kami sudah sampai tujuan. Tapi karena terlalu pagi, loket belum dibuka. Kami menunggu di depan loket. Diantara pengunjung yang datang pagi itu, lebih didominasi oleh turis asing.
Tepat pukul 06.00 WIB loket dibuka. Setelah membeli tiket, tanpa berputar-putar candi kami langsung menuju puncak, stupa utama candi. Lalu dengan sedikit narsis mencari posisi yang kami anggap bagus, kemudian jepretttt… . Kami turun satu tingkat di bawahnya, lalu berkeling hingga tangga awal mengelilingi candi. Begitu seterusnya sampai bagian terbawah candi.
Udara pagi di candi sungguh sangat menyejukkan. Memang lebih baik berkeliling candi pada saat seperti ini, karena bila matahari sudah sedikit meninggi maka akan terasa panas. Tiap tingkatan yang tedapat di candi ini menggambarkan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan. Ada yang melambangkan dunia, alam, alam atas (belum mencapai nirwana) dan nirwana. Candi yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini memang sungguh luar biasa. Namun yang membuat saya agak heran, mengapa candi sebesar ini ditemukan dalam kondisi terkubur? Apakah karena faktor alam seperti meletusnya gunung di sekitar candi? Atau ada hal lain?
Sebenarnya masih ingin berlama-lama di Borobudur, tapi kami harus mengejar waktu menuju Dieng. Pukul 09.30 kami keluar dari komplek candi dan menuju mobil. Kami mengajak guide kami untuk ikut makan di warung makan yang ada di sekitar candi. Soto babat jadi pilihan sarapan eh… makan siang, mengingat sudah lewat dari jam sarapan.
*****
Go to Dieng…..
Saat di Jakarta, sebelum memutuskan akan pergi ke daerah ini.. Kami sedikit berdebat, karena meributkan masalah lokasi Dieng. Saya berpendapat bagaimana mungkin dari jogja ke Dieng ditempuh hanya dalam beberapa jam karena tempat itu terlalu jauh dari jogja, ternyata… saya salah. Karena selama ini saya pikir Dieng berada di daerah sekitar Bromo. Ini karena saya sering membaca iklan paket wisata TOUR BROMO – DIENG – JOGJA atau TOUR WISATA PRAMBANAN, BOROBUDUR, DIENG, BROMO.
Jalan yang dilalui lumayan lancar dan mulus. Bahkan sempat beberapa saat kami tertidur hingga memasuki wilayah Wonosobo. Tak berapa lama mobil memasuki jalan yang di sisinya terdapat perkebunan kol dan kentang. Wow… jadi ingin memanen saja, apalagi kol-kol di sana sangat besar-besar.
Mobil berhenti di Gardu Pandang, begitu membuka pintu lumayan terkejut juga. Ternyata udara di luar sangat dingin. Kami menuju sebuah bangunan kecil bertingkat, yang sepertinya memang sengaja dibuat untuk para pengunjung menikmati pemandangan indah dataran tinggi Dieng.
Angin kencang plus rintik-rintik hujan membuat udara makin dingin saja. Tapi yang mengherankan ada seorang bule yang tadi juga ada di Candi Borobudur berada di sana hanya dengan menggunakan singlet saja. Kok tidak kedinginan?
Perjalanan kembali dilanjutkan ke kawasan Candi Arjuna. Di kawasan candi ini ternyata terdapat beberapa candi lain seperti Candi Srikandi, Candi Sembadra dan ada beberapa bangunan candi lagi, tapi saya lupa namanya.
Hujan gerimis menemani kami saat memasuki kawasan candi tapi tidak mengurungkan niat kami untuk melihat salah satu peninggalan bersejarah ini.
Makin lama hujan yang turun semakin deras sehingga kami bergegas berlari menuju tempat parkir. Dengan naik mobil kami menuju sebuah bangunan museum, karena hujan kami berteduh di seberang bangunan. Di sisi yang lain terdapat sebuah bangunan candi. Kalau tidak salah Candi Gatot Kaca, karena hujan kami tidak mendekat ke candi sehingga tidak tahu bagaimana bentuk candi dari dekat.
Kami memesan bakso yang berada di tempat kami berteduh untuk menghangatkan badan dari udara dingin. Begitu bakso berada di meja, langsung kami lahap tapi kuah bakso tidak terlalu panas. Saya tanyakan hal itu ke penjual bakso, apakah kuah yang digunakan memang hanya hangat seperti ini. Si penjual sambil tersenyum menunjukan panci berisi air yang meletup-letup kepada kami dan menjelaskan karena begitu dinginnya udara di tempat itu sehingga membuat air panas menjadi cepat dingin.
Memang udara sangat dingin dan menurut perkiraan saya saat itu suhu di bawah 5’C. Tapi menurut penjual bakso, udara saat itu belum seberapa karena pada bulan tertentu bisa mencapai di bawah 0’C. Di sudut tempat berteduh saya melihat si bule yang diceritakan di atas. Dengan kaos singlet basah kuyup dia berteduh dari hujan yang makin deras. Tidak kedinginankah dia?
Segera setelah hujan sedikit reda, kami lanjutkan perjalanan menuju kawah Sikidang. Sepanjang perjalanan menuju kawah, bau khas belerang mulai tercium. Kawasan kawah Sikidang cukup luas dan di tempat ini merupakan hamparan luas tanah yang diujungnya terdapat sebuah kawah.
Terdapat banyak letupan kecil air panas di hamparan tanah tersebut. Kadang saya kaget ketika tiba-tiba ada percikan air panas mengenai kaki saya yang hanya menggunakan sandal jepit. 
Sambil berjalan menuju kawah Sikidang, kami mencari beberapa batu yang unik untuk kenangan-kenangan. Ketika mencari batu, saya sering menemukan uang koin dengan pecahan Rp 100 atau Rp 200 di sana. Saya bertanya kepada guide kami, tapi sepertinya dia enggan menjelaskan. Saat berjalan menuju kawah, kami berpapasan dengan bule tadi tapi sepertinya dia habis dari sana. Lewat mana si bule tadi, kok bisa dia duluan yang sampai di kawah? Padahal tadi waktu kami menuju ke kawah, si bule masih berteduh.
Letupan dan suara yang berasal dari kawah membuat saya terpukau. Kawah berisi lumpur yang meletup-letup mengingatkan saya pada pembuatan jenang. Tapi kalau jenangnya sebanyak ini, seberapa besar api yang digunakan untuk memasaknya. Mengingat hal itu saya jadi ngeri bila tiba-tiba kawah ini meletus dan menyemburkan “jenang” nya. 
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, kami sempat bermain dengan lumpur yang berada di sekitar letupan-letupan kecil. Karena menurut tulisan yang kami baca lumpur yang mengandung belerang dapat mengobati penyakit kulit maka muncul ide gila untuk melumuri kaki dan tangan dengan lumpur-lumpur itu.
Karena makin banyak orang yang datang, kami segera membersihkan dengan air mengalir dari sela-sela lubang. Tapi sela-sela kuku kami tidak bisa dibersihkan dari lumpur, hasilnya kuku kami serba hitam dan bau lumpur tidak bisa hilang. Jangan ditiru ya….!!!
Di dekat tempat parkir terdapat tempat seperti pasar kecil. Di sana ada yang menjual kentang, cabai dan bebrbagai hasil kebun lainnya. Juga penjual oleh dan kami membeli 2 ikat bunga edelweiss untuk kenang-kenangan.
*****
Tujuan selanjutnya adalah Telaga Warna. Letaknya tidak terlalu jauh dari kawah. Di pintu gerbang kami disambut penjaga loket dengan cukup ramah. Penjaga loket bertanya pada guide kami, mengenai status kami yaitu turis asing atau lokal (untuk diketahui, setiap tiket di kawasan Dieng dibedakan harganya berdasarkan turis asing atau lokal).
Saya segera menyahut, tentu saja kami lokal. Dan saya bertanya kepada penjaga loket mengenai pertanyaannya itu. Tidak terlihatkah wajah Indonesia kami? Dia segera melirik ke arah teman saya, karena dia mengira teman saya berasal dari Singapura atau Malaysia. Saya dan teman saya tertawa terbahak. Dia langsung menyeletuk: “Pak, saya chasingnya saja yang seperti ini kalau balik ke seberang, orang seperti saya diusir”. Untuk diketahui teman saya adalah seorang Tionghoa. 
Telaga Warna saat itu berwarna hijau agak kebiru-biruan atau biru agak kehijau-hijauan ya? Saya sendiri bingung melihatnya karena tidak ada warna yang lebih dominan. Tempat ini sungguh indah. Mungkin bila digunakan untuk lokasi foto pre-wedding, hasilnya akan bagus.
Kami berjalan menyusuri tepi telaga. Tidak lama berjalan, sampailah kami di Batu Tulis. Kata guide kami, nama batu ini Batu Tulis karena bentuknya yang seperti pena. Tapi saya tidak melihat kemiripannya. Maaf ya Mr. Guide… he…he… Mungkin saya saja yang tidak memperhatikan dengan jelas.
Dari Batu tulis kami berjalan lagi, ada beberapa gua yang kami lalui seperti Gua Jaran, Gua Sumur dan Gua Semar tapi gua-gua itu dikunci. Semenjak dari Batu Tulis hingga melintasi gua-gua, saya banyak menjumpai bunga-bunga juga sisa pembakaran arang. Sempat kami bertemu dengan wanita yang berdandan ala Suzana dengan rangkaian bunga dirambutnya yang panjang. Wanita itu sangat ramah dan mempersilahkan kami menikmati keindahan sekitar. Kata guide, wanita itu adalah seorang pembimbing. Saya tidak bertanya tentang apa yang dibimbingnya, karena melihat dari cara berdandan langsung terlintas sesuatu yang mistik dipikiran saya.
Udara dingin membuat saya ingin menyantap sesuatu yang hangat. Kami keluar dari kawasan Telaga Warna dan berputar-putar mencari makanan yang seperti kami harapkan. Tapi di sekitar area itu tidak ada makanan yang kami inginkan. Guide menawarkan mi ongklok, yaitu salah satu makanan khas Wonosobo. Kami bertanya apa itu mi ongklok, guide menjelaskan dan kami pun langsung mengangguk. Dengan kecepatan lumayan tinggi guide membawa kami ke Jl. Ahmad Yani, Wonosobo.
Di sana kami segera memesan mi ongklok, sambil menunggu kami menghabiskan beberapa potong tempe kemul. Mi segera datang dan disajikan dengan beberapa tusuk sate. Tanpa berpikir panjang, saya hampir saja langsung menyantap mi. Untung teman saya langsung melirik ke kamera yang saya bawa, jadi tidak lupa untuk menjepret terlebih dahulu. Di dalam mi ongklok ada beberapa bahan seperti mi (ya jelaslah, namanya juga mi), kol dan kucai kemudian kuah yang agak sedikit kental. Saya bukanlah orang yang bisa menggambarkan rasa makanan seperti Pak Bondan (Mr. Maknyusss) tapi bila disuruh memberi gambaran, rasa mi ongklok ini hampir seperti mi Jawa tapi ada rasa manisnya.
Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, perjalanan kami lanjutkan menuju Jogja. Di dalam mobil, banyak kami habiskan dengan tidur. Akhirnya kami sampai penginapan pukul 19.15 WIB dengan selamat. Tak lupa kami ucapkan terima kasih untuk Mr. Guide yang sudah mengantarkan kami menikmati pemandangan yang luar biasa.
Pukul 21.00 kami ingin merasakan kehidupan malam Jogja. Kami pikir Jogja dimalam hari pasti sepi, ternyata salah. Melintasi tugu Jogja, kami melihat banyak anak muda yang berfoto-foto dengan background tugu. Setelah lelah, kami kembali ke penginapan dan membereskan barang-barang supaya keesokan hari kami tidak terburu-buru.
*****
Pukul 08.00 kami bangun. Tujuan pertama kami adalah Pasar Beringharjo untuk berburu batik. Setelah membeli beberapa potong kemeja batik untuk oleh-oleh keluarga, kami segera menuju pabrik Bakpia Phatuk 25 dengan becak. Bapak tukang becak yang kami tumpangi menawarkan diri untuk menunggu hingga kami selesai berbelanja dan mengantarkan kami ke penginapan. Kami menolak karena takut si Bapak terlalu lama menunggu, tapi dia bersedia menunggu.
Service yang ditawarkan sang bapak tukang becak membuat saya ingat dengan kejadian yang sebaliknya dibeberapa daerah. Karena di daerah tertentu yang pernah saya kunjungi, saya malah ditipu oleh tukang becak yang mengajak saya berputar-putar sehingga biaya yang dikeluarkan lebih banyak. Atau ada juga yang mengantarkan ke tempat yang berbeda dengan tujuan, lalu dia meminta lebih kalau ingin ke tujuan semula.
Beberapa kali kami naik becak di Jogja, selalu mendapat tukang becak yang baik. Mereka ramah, penuh kepedulian dan yang paling penting jujur. Salut buat para tukang becak di Jogja, yang telah membuat para wisatawan merasa nyaman.
Seorang teman yang tengah dinas ke Jogja menjemput kami di depan penginapan. Karena kesibukannya, kami tidak sempat bertemu ketika di Jogja. Dan dihari terakhir dia menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke bandara.
Ketika berada di dalam pesawat, beberapa kali kami mengalami turbulence karena cuaca sedikit tidak bersahabat. Bahkan sempat pesawat seperti hampir terhempas ke bawah. Namun setelah 1 jam yang menegangkan di dalam pesawat kami sampai di Jakarta dengan selamat dan saya bisa menuliskan cerita perjalanan ini.
21 Mei 2010
Ke Jogja
Sebenarnya perjalanan kali ini sama sekali tidak terencana. Apalagi untuk berpikir bepergian di awal tahun seperti ini. Seminggu sebelum berangkat, seorang teman mengajak untuk menemaninya pergi ke Jogja. Awalnya agak ragu , tapi melihat keseriusannya browsing tempat-tempat wisata jogja dan sekitarnya. Akhirnya saya mengiyakan ajakannya. Setelah membeli tiket pesawat Jakarta-Jogja-Jakarta yang paling murah melalui internet, saya ajukan cuti pada atasan untuk 2 hari kerja.
Karena jarak rumah yang agak jauh, maka diputuskan agar saya menunggu di halte yang searah dengan jalan yang akan dilalui teman saya. Tapi karena sang supir taksi kesasar saat mencari rumahnya, maka saat tiba di bandara counter boarding pass dengan tujuan jogja sudah ditutup. Dikarenakan kami tiba pada pukul 05.40 WIB, yang berarti 20 menit sebelum jadwal terbang. Eitsssss….. cerita perjalanan belum selesai sampai di sini.
Mungkin melihat wajah kami yang memelas, sang penjaga segera mengoper kami ke rekan di sebelahnya yang baru saja memasang papan dengan tulisan CLOSE. Setelah sedikit diceramahi, akhirnya kami disuruh segera berlari menuju gate penerbangan. Dan dia segera mengontak rekannya di gate dengan menggunakan HT. Sambil kebingungan karena panik dan baru pertama kalinya masuk ke terminal 3 bandara Soekarno-Hatta, kami berlari-lari sambil bertanya-tanya ke orang-orang yang kami temui. Jadi ingat acara di TV, Amazing Race.
Tanpa terasa 45 menit kami lalui di dalam pesawat yang akhirnya pukul 06.45 WIB mendarat dengan selamat di bandara Adi Sucipto, Jogja. Kami menunggu jemputan (mobil yang disewa teman saya melalui iklan di internet). Kami langsung meluncur ke daerah pantai yang terletak di kawasan Kabupaten Gunung Kidul.
Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Krakal, menyusuri pantai ini memang sungguh menyenangkan. Suasana yang tenang, aroma laut yang segar, desiran angin dan bunyi ombak membuat badan terasa relax.
Setelah puas menjelajahi tepi pantai Krakal, kami beranjak ke pantai Kukup. Pantai yang sangat indah, seperti berada di Bali. Keasyikan berada di pantai, kami sampai lupa kalau dari pagi belum mengisi perut sama sekali. Musik-musik yang terdengar dari perut mengingatkan bahwa kami harus segera mengisi “bahan bakar”.
Kami menuju Pantai Baron, di sana ada penjual ikan-ikan segar yang juga menyediakan jasa masak. Setiap harga yang diberikan penjual sudah termasuk harga jasa masak. Kami memilih menu ikan bakar, cumi-cumi dan kepiting bumbu asam manis. Untuk ikan dan cumi lumayan enak tapi untuk kepiting tidak tahu rasanya karena tidak bisa ikut menikmati.
Hari masih siang dan rugi bila langsung menuju hotel, apalagi waktu sewa mobil masih lama. Setelah berbicara dengan guide/driver kami yang baik ini, akhirnya diputuskan perjalanan selanjutnya menuju Candi Prambanan dan Bunker Merapi di Kaliadem.
*****
Kondisi candi sedikit memprihatinkan, terdapat beberapa retakan di dinding candi akibat gempa yang melanda Jogja dan sekitarnya beberapa tahun lalu. Terutama Candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, candi ini sudah dipagari dengan pagar kawat karena takut membahayakan pengunjung bila terlalu dekat. Namun bagi saya hal itu tidak mengurangi kecantikan dan kemegahan Candi Prambanan.
Kami beranjak ke Candi Wisnu yang terletak di sisi Candi Siwa, di dalam candi kami menjumpai ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma di sisi lain Candi Siwa, kami menjumpai satu ruangan berisi arca Brahma. Kami pun mengelilingi candi-candi pengapit yang berada di kawasan Candi Prambanan. Setelah puas berkeliling, kami segera ke mobil dan bergegas menuju Kaliadem.
Memasuki kampung Mbah Marijan, kami membuka jendela mobil selebar-lebarnya. Kami biarkan udara alam masuk ke paru-paru yang selama ini selalu menghirup polusi di Jakarta. Sampai di kawasan sekitar bunker, guide kami bercerita sedikit tentang keadaan sebelum dan saat terjadinya luncuran material Gunung Merapi. Di sebelah Kaliadem, terdapat sebuah sungai yang bernama Kali Gendol yang pada awalnya akan menjadi daerah aliran lava. Namun diluar dugaan luncuran lava justru melompati Kali Gendol, bukan mengalir ke dalamnya. 
Kami melewati sisa-sisa lava yang sudah mengeras menjadi pasir dan bebatuan, namun cuaca sedang tidak bersahabat rintik-rintik hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Dengan setengah berlari, kami menuju bunker untuk berteduh di depan pintu bunker. Karena pintu terbuka sesekali kepala saya celingukan ke dalam, saya melihat sisa lava yang sudah menjadi pasir. Tiba-tiba terbayang orang-orang yang terkurung di dalam sana ketika merapi meletus, jadi merasa agak ngeri untuk berlama-lama melihat ke dalam. Sekitar 15 menit kami berteduh di sana hingga hujan reda.
Dalam perjalanan menuju mobil, saya sempat melihat tukang jadah bakar. Ingin rasanya mampir dan mencicipinya, tapi hujan mulai turun kembali dan niat itu saya urungkan. Karena sudah lelah maka tujuan selanjutnya langsung menuju penginapan di daerah Kemetiran, Rumah Eyang Heritage. Cukup nyaman dan harga pun terjangkau.
********* Bersambung *********
24 November 2009
Lereng Lawu
Objek wisata terkenal di lereng Gunung Lawu salah satunya Tawangmangu, tepatnya di sisi barat. Namun sebenarnya masih banyak tempat wisata di sisi lain Gunung Lawu yang belum ter-explore dan sangat sayang bila dilewatkan.
Kali ini saya menyusuri wilayah sebelah utara dari Gunung Lawu tepatnya di Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Dan perempatan pasar Ngrambe saya tandai sebagai titik awal perjalanan. Untuk informasi ada tiga jalur untuk mencapai Ngrambe. Dari arah timur melalui Jogorogo. Sedangkan dari arah barat, kita dapat melalui Sine. Dari arah utara, bisa melalui Gendingan dan melewati Walikukun. Jalur yang umum dan termudah adalah melalui Gendingan yang merupakan jalan provinsi (Solo – Surabaya).
Perempatan ini adalah sumber ekonomi warga, karena terdapat sebuah pasar besar yang menampung hasil ladang dari berbagai desa di sekitar kecamatan Ngrambe. Bahkan banyak pedagang yang datang dari luar Ngawi seperti Solo dan Sragen. Pasar Ngrambe cukup unik karena tidak ramai setiap hari, hanya di hari pasaran saja, yaitu di hari Kliwon dan Pahing.
Saya beruntung karena tiba pada hari Kliwon, sehingga saya bisa melihat kegiatan pasar ini. Karena hari masih pagi dan butuh energi sebelum melanjutkan perjalanan, saya pun melirik ke beberapa kios penjual makanan. Dan akhirnya pilihan saya jatuh pada gulai dan sate ayam. Harga makanan di Pasar ngrambe terbilang murah dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta. Untuk semangkuk gulai plus nasi cukup dengan Rp 5.000,- begitu juga dengan seporsi sate ayam (10 tusuk) yang dihargai Rp 5.000,- saja.
Setelah perut terisi, saya siap melanjutkan perjalanan. Saya menuju ke terminal kecil yang terdapat di pojok pasar. Transportasi di wilayah ini tidak sulit terutama di hari pasaran. Ada beberapa orang yang menawarkan jasa sewa mobil dan ojek sepeda motor kepada saya. Jangan kuatir mengenai transportasi bila suatu saat Anda datang diluar hari pasaran, karena kendaraan alternatif seperti ojek sepeda motor akan selalu setia menanti kedatangan Anda.
Karena kondisi medan yang naik turun, maka bagi Anda yang berjiwa petualang bisa mencoba tantangan dengan berjalan kaki. Sekedar informasi, daerah ini sangat cocok bagi Anda yang menyukai wisata jalan-jalan di alam bebas.
Setelah duduk di boncengan ojek, motor segera melaju menuju lereng Lawu melewati desa Tawangrejo. Sepeda motor yang saya tumpangi dikendarai oleh Pak Supri yang selanjutnya saya sebut sebagai tour guide. Pandangan langsung tertuju pada Gunung Lawu yang menjulang tinggi di hadapan saya. Sungguh menakjubkan karya Sang Pencipta. Ditambah hamparan sawah luas dikanan-kiri jalan yang saya lalui, menambah perasaan menjadi damai.
Akhirnya saya sampai di sisi Grancang, yaitu sebuah bukit yang terletak di desa Lebak. Namun saya tidak naik ke puncaknya. Menurut Pak Supri selain makam kuno yang berada di puncak bukit, di tempat ini dulu terdapat patung lembu dan lemari besar yang terbuat dari batu. Namun amat disayangkan, tangan-tangan tak bertanggungjawab memindahkan peninggalan berharga itu. Pak Supri tidak tahu secara pasti sejarah dari peninggalan itu. Karena ada berbagai versi cerita yang disampaikan secara turun temurun oleh orang-orang tua di sana.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah tempat bernama Baon, nama sebuah hutan pinus dan cemara buatan yang terhubung langsung dengan hutan Lawu. Hutan ini awalnya hanya berupa tanah kosong, namun sekitar awal tahun 1990 atas inisiatif warga setempat mulai ditanami pepohonan untuk menahan longsor pada lereng gunung. Di sisi sebelah timur hutan ini terdapat sungai bernama Klegung, yang artinya air besar.
Sumber aliran sungai ini berasal dari gunung Lawu. Bila kita menyelusuri tepi sungai ke dalam hutan, terdapat bagian sungai yang agak melebar dan biasa digunakan untuk warga sekitar untuk berenang.
Saya terpukau ketika tour guide saya menghentikan motornya di depan sebuah bangunan yang terbuat dari batu.
Awalnya saya mengira bangunan ini adalah bekas benteng dimasa lampau seperti Benteng Pendem di Cilacap, Jawa Tengah. Ternyata dugaan saya salah, bangunan dengan tinggi + 10M dan luas + 240m2 ini adalah sebuah rumah yang terbuat dari batu. Pemilik yang juga pembuat rumah ini adalah almarhum Mbah Tomo, ia tidak pernah berhenti menambah tumpukan batu hingga akhir hayatnya.
Perjalanan saya lanjutkan menuju perkebunan teh Jamus. Tapi berdasarkan saran guide tour saya, perjalanan selanjutnya lebih nikmat bila dilakukan sambil berjalan kaki. Meskipun bisa juga dengan motor ataupun mobil.
********.
JAMUS, adalah nama sebuah perkebunan teh di lereng utara Gunung
Lawu. Bila ke tempat ini, kita akan teringat dengan kawasan Puncak, Jawa Barat. Minus vila, hotel, penginapan dan kemacetan tentunya. Keindahan alam Jamus begitu murni, sehingga Jamus memiliki pesona tersendiri bagi saya. Panorama alam yang disuguhkan sangat indah. Udara segar segera masuk ke dalam paru-paru saya. Saya sangat menikmati wisata alam kali ini. Jalan yang berkelok, jurang-jurang curam terdapat di sisi perkebunan menambah rasa kagum begitu juga rasa penasaran saya pada tempat ini.
Meskipun saya melalui Kecamatan Ngrambe, namun secara administratif Jamus merupakan bagian dari Desa Giri Kerto, Kecamatan Sine. Karena cuaca saat itu cerah, maka saya bisa melihat puncak Gunung Lawu yang begitu megah. Karena kata tour guide saya bila sedang hujan jangankan puncak Lawu, pandangan kita akan terhalang kabut dan hanya dapat melihat 3-5 meter ke depan.
Sampai di puncak perkebunan terdapat tiga pohon yang berukuran raksasa. Di bawah salah satu pohon segera terhirup wangi bunga kantil. Langsung terlintas pikiran macam-macam dipikiran saya. Tapi ketika membaca tulisan “BUMI PERKEMAHAN KANTIL IDAMAN JAMUS”, segera saja, saya menengok ke atas dan ternyata aroma wangi yang saya hirup tadi berasal dari pohon kantil yang sedang berbunga. Huh… leganya.
Tak jauh dari tumbuhnya pohon kantil raksasa itu, terdapat pabrik teh. Di pabrik inilah daun-daun teh yang saya lalui tadi diproses. Di depan pabrik terdapat sebuah pos penjagaan. Dan bagi pengunjung bisa memasuki kawasan pabrik ini dengan meminta ijin terlebih dahulu. Dikarenakan perut sudah mulai meronta, saya segera menuju ke salah satu warung makan di dekat pabrik. Jangan kuatir kelaparan bila berada di sana, karena di sekiling pabrik terdapat warung-warung kecil yang menyediakan makanan seperti pecel, soto, mi ayam, baso dan lain-lain. Seporsi mi ayam ditambah 2 bungkus kerupuk dan segelas es jeruk, cukup membuat tenang perut saya..
Saat menikmati makanan, tampak beberapa keluarga yang membawa mobil juga banyak muda-mudi yang hilir mudik baik berjalan kaki maupun naik motor secara beriringan melalui jalanan di depan warung itu berada. Kebanyakan dari mereka masih mengenakan seragam sekolah. Pak Supri menjelaskan bahwa tiap akhir pekan tempat ini banyak dikunjungi mereka yang ingin menikmati kesegaran permandian dari mata air Sumber Lanang. Saya tertarik mendengar tempat permandian ini, dan segera mengajak tour guide saya ke tempat tersebut.
Akhirnya tibalah saya di kolam permandian. Di sekeliling kolam terdapat penjaja makanan, seperti tempat wisata pada umumnya. Juga terdapat jasa parkir bagi mereka yang membawa kendaraan. Sebenarnya saya ingin mencoba merasakan kesegaran airnya, tapi karena ramai saya urungkan niat untuk nyemplung.
Sebenarnya bukan hanya itu saja alasan saya tidak ingin masuk ke kolam. Tapi karena kolam ini tidak seperti kolam mata air pada umumnya. Biasanya di tempat lain, kolam-kolam sejenis airnya terasa hangat dan terdapat kandungan belerang tapi di tempat ini jangan harap. Karena ketika saya mencoba menyentuh air yang berada di sisi kolam, airnya sedingin es. Brrrrr……..
Tidak jauh dari kolam tersebut terdapat mata air yang merupakan sumber air untuk kolam. Sebuah bangunan kecil menaungi tempat tersebut, dengan tulisan besar di atasnya SUMBER LANANG. Limpahan air tampak keluar dari cela-cela batu yang saling berhimpitan.
Karena hari sudah mulai sore, kami pun segera menuruni perkebunan teh. Jalur yang kami lalui sama seperti saat naik ke Puncak Jamus. Ada batu yang berbentuk prasasti di sisi kanan jalan dan tadi terlewat dari pandangan mata saya. Saya pun menghampiri, ternyata di tempat tersebut terdapat beberapa makam. Tidak ada tulisan yang bisa dibaca untuk mengetahui siapa yang dimakamkan di sana. Tapi menurut tour guide, makam tersebut adalah makam Belanda. Orang sekitar menyebutnya Kerkov. Namun Pak Supri tidak tahu persis siapa yang dimakamkan di tempat itu. “Mungkin mereka mandor perkebunan teh dimasa juga lampau.” Katanya.
Badan terasa lelah tapi saya sungguh menikmati perjalanan ini. Pemandanganya begitu indah, sawah yang terhampar luas, bukit dan lembah yang memukau dan berbeda satu dengan yang lain, jalan berbatu dan berliku, sungai-sungai berair jernih dan segar, membuat rasa cinta saya pada Gunung Lawu semakin besar. Suatu saat, saya pasti kembali lagi ke tempat ini.
17 Desember 2008
Awal
Sebenarnya ga kepikir saat ini mau nulis apa. Karena tertarik dengan tulisan-tulisan di blog yang bisa menambah wawasan ataupun opini-opini para penulis blog yang menarik, jadi punya keinginan tuk membuat blog sendiri. Walaupun sekarang belum tau apa yang mau ditulis di blog ini. Semoga ke depan bisa memberikan suatu hal yang positif. Amin.








































